Menu

Mode Gelap

Mom · 3 Nov 2023 21:44 WIB ·

7 Kalimat Pantang Diucapkan Orang Tua ke Anak, Bikin Tidak Cerdas dalam Pelajaran & Emosional


 7 Kalimat Pantang Diucapkan Orang Tua ke Anak, Bikin Tidak Cerdas dalam Pelajaran & Emosional Perbesar

Jakarta

Menjadi orang tua bukanlah perkara yang mudah. Tak jarang setiap orang tua melakukan kesalahan seperti mengucapkan kata-kata atau kalimat tertentu yang sebenarnya tidak boleh dikatakan. 

Dari sisi pendidikan dan kesejahteraan anak secara mental, hal tersebut dapat memberikan pengaruh yang cukup besar, Bunda. Tak terkecuali memengaruhi kecerdasan anak yang berperan penting dalam membentuk interaksi dengan orang-orang sekitar.

Ada banyak faktor yang bisa menjadi pemicu mengapa Bunda dan Ayah mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya. Orang tua perlu mengenali penyebabnya agar mampu meminimalisir atau mengontrol ucapan tidak pantas ke anak. Adapun berbagai faktornya seperti tekanan sosial, trauma masa lalu, dan kurangnya pemahaman akan dampak yang diberikan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh sebab itu, penting untuk orang tua menyadari bagaimana penggunaan bahasa yang tepat dapat berpengaruh pada perkembangan mental dan emosional anak-anak. Dengan memahami pentingnya kalimat-kalimat yang tidak seharusnya diucapkan oleh orang tua, maka akan terbentuk pula lingkungan yang positif bagi kecerdasan anak dan mendorong terbentuknya anak yang pintar secara emosional. 

Nah, lantas apa saja kalimat-kalimat yang tidak boleh diucapkan oleh orang tua? Berikut ini beberapa penjelasan terkait kalimat-kalimat tersebut dilansir dari laman CNBC Make It dan berbagai sumber.

7 Kalimat pantang diucapkan orang tua ke anak, bikin tidak cerdas dalam pelajaran & emosional

Berikut ini terdapat beberapa kalimat yang tidak boleh diucapkan oleh orang tua yang dapat mempengaruhi kecerdasan otak dan emosional. Simak ya, Bunda. 

1. “Kamu menjadi sangat buruk” 

Ketika anak sedang dalam masa kehilangan rasa percaya diri, tentunya hal ini menimbulkan kecemasan, emosional, keputusasaan, dan sebagainya. Namun, perlu diingat bahwa hal tersebut sama sekali tidak menjadikannya sebagai anak yang buruk, hanya sedang berada di fase krisis identitas, Bunda. 

Apabila kondisi ini tidak ditangani dengan baik, krisis identitas tersebut dapat menyebabkan rasa malu yang semakin menjalar ke semua aspek kehidupan anak. Hal ini juga dapat berpotensi menimbulkan masalah kesehatan mental.

Oleh sebab itu, jika anak-anak sedang berjuang, cobalah untuk tidak menuduhnya dengan kalimat-kalimat buruk. Bunda bisa mengganti kalimat yang berkaitan dengan sisi emosional dengan bahasa yang lebih baik lagi seperti, “Bunda lihat kakak sedang merasa frustasi, apakah Bunda bisa tahu apa yang sedang terjadi?”. 

2. “Kamu bereaksi dengan berlebihan” 

Walaupun Bunda merasa tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Si Kecil, Bunda perlu memperhatikan perasaan anak saat menyampaikannya. Alangkah baiknya Bunda memberikan jeda kepada diri sendiri untuk memproses apa yang dikatakan oleh anak, sehingga perasaan Bunda akan jauh lebih terkendali.

Bunda juga bisa menjaga kontak mata dan memperhatikan bahasa tubuh. Hal ini karena anak-anak seringkali lebih pandai membaca isyarat non-verbal dan cenderung menjadi diam jika anak merasa tidak aman untuk bicara. 

Nah, jika Bunda berada di posisi ini, daripada mengatakan bahwa perasaan yang dirasakan oleh anak berlebihan, lebih baik kalimat tersebut diganti dengan, “Bunda butuh waktu untuk memproses pembicaraan ini, istirahat sejenak lalu lanjutkan obrolan nanti.”

3. “Itu tidak sulit. Kamu akan bisa mengatasinya” 

Jika Bunda mengatakan kepada Si Kecil bahwa mereka akan “bisa mengatasinya”, maka hal ini dapat mematahkan pengalaman anak. Hal ini dapat membuatnya merasa tidak nyaman karena memiliki emosi yang normal layaknya seorang manusia.

Kemungkinan besarnya, anak akan berpikir bahwa ada yang salah dari dirinya karena memiliki perasaan-perasaan tersebut. Maka dari itu, sebagai orang tua, Bunda bisa mencoba untuk mengkomunikasikan perasaan anak terkait dengan suatu hal.

Berikan tanggapan dengan rasa ingin tahu dan perhatian. Selain itu, alih-alih menolak perasaan anak, Bunda bisa mengatakan, “Mungkin terdengar sulit, tapi adik bisa melakukannya, dan ada yang bisa Bunda lakukan untuk membantu?”. 

4. “Berhenti menangis!” 

Menangis merupakan mekanisme neurobiologis yang dapat membantu untuk mengatasi energi yang telah terpendam dan terakumulasi dalam pikiran, otak, dan tubuh. Selain itu, dengan menangis dapat mencegah adanya penekanan emosi serta jauh lebih bisa menjaga kondisi kesehatan mental. 

Alih-alih menyuruh Si Kecil untuk berhenti menangis, Bunda bisa mencoba memberikan pengalihan lainnya seperti, berjalan-jalan, melakukan aktivitas seru yang tidak berhubungan dengan permasalahan, dan lainnya. Hal ini berguna agar anak jauh lebih terbuka tentang apa yang sedang dialaminya.

Dengan memberikan kenyamanan pada Si Kecil, tentunya Bunda telah menyelamatkannya dari perasaan yang menumpuk dari waktu ke waktu. Bunda juga bisa mengatakan kepada Si Kecil seperti, “Apakah adik dan kakak ingin berjalan-jalan atau berkendara?”. 

5. “Karena saya bilang begitu” 

Apabila Bunda hendak menetapkan suatu batasan sebagai orang tua terhadap anak, maka Bunda juga harus memberikan alasan yang tepat agar Si Kecil jauh lebih memahaminya. Jika Bunda tidak memberikan penjelasan, anak bisa merasa penasaran dan membuatnya kebingungan. 

Hal itu dapat berakibat pada keingintahuan yang tinggi, sehingga menyebabkan anak mencari sosok orang dewasa di dalam hidupnya untuk membantu memahami sesuatu yang tidak diketahuinya. Daripada Bunda hanya memberikan batasan yang berupa perintah, alangkah baiknya menjadikan momen ini untuk mengajarkan terkait persiapan diri anak dalam menghadapi masa depan kelak dengan lebih baik.

Sebagai contohnya, Bunda bisa menggunakan kalimat yang halus beserta alasannya ketika melarang anak melakukan sesuatu. Misalnya saja mengucapkan kalimat, “Bunda tidak ingin kalian memanjat pohon karena itu berbahaya, bisa menyebabkan jatuh dan melukai diri.”




Genki Moko Moko

6. “Kenapa kamu enggak juara kelas?” 

Menurut pandangan ahli, pada dasarnya otak diprogram untuk berprestasi di saat waktu dan tempat yang tepat. Dengan kata lain, apabila anak-anak mengalami kesulitan, bukan berarti mereka tidak ingin berprestasi, tetapi karena memang belum mampu, Bunda. 

Dalam artian lain, masalah utama yang terjadi pada anak-anak bukan karena mereka kurang dalam memahami pelajaran. Hal ini terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara ekspetasi Bunda sebagai orang tua dan kemampuan anak.

Oleh sebab itu, cobalah untuk memahami minat dan bakat anak serta tidak memaksakan kehendak Bunda. Sebagai contohnya, jika anak senang bermain video game, alih-alih melarangnya, Bunda bisa mengatakan, “Menurut Bunda, sepertinya kamu sangat suka bermain video game. Boleh tidak Bunda tahu kenapa kamu sangat suka main game? Coba ceritakan ke Bunda.”

7. “Kamu tidak sopan!” 

Salah satu kebiasaan buruk yang seringkali dilakukan oleh orang tua adalah mengambil kesimpulan sendiri mengenai perilaku anak berdasarkan rasa ketidakamanan pribadi orang tua, bukan memahami apa yang dirasakan oleh anak. 

Pada dasarnya, pendekatan secara emosional merupakan pendekatan yang paling berpengaruh bagi orang tua ketika menghadapi situasi atau kondisi yang dialami oleh anak. Bunda bisa bertanya atau mendengarkan apa yang sedang dirasakan oleh anak seperti, “Bunda lihat kamu dapat nilai 64 dalam ujian sains terakhir. Kamu mau ngobrol tentang itu? Bunda hanya ingin mendengar perasaan dan keluhanmu.”

Itulah beberapa penjelasan terkait dengan kalimat-kalimat yang tidak boleh diucapkan oleh orang tua. Semoga setelah memahaminya, Bunda bisa merubah kalimat-kalimat yang akan diucapkan kepada Si Kecil, ya. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Kontributor

Baca Lainnya

5 Potret Kehidupan Rachel Amanda Kuliah S2 di Belanda & Mesra Bareng Suami

10 December 2023 - 07:59 WIB

Janin Sering Cegukan, Kenali Penyebab, Cara Mengatasi & Bedaya dengan Tendangan Bayi

10 December 2023 - 03:52 WIB

janin-cegukan

7 Potret Kimberly Ryder & Edward Akbar 5 Th Menikah, Awalnya Kepincut Gara-gara Salat Subuh

9 December 2023 - 23:49 WIB

10 Tanda Tubuh Kelebihan Gula yang Perlu Diwaspadai, Mudah Lapar dan Brain Fog

9 December 2023 - 19:42 WIB

Cerita Bunda Vanessa Bisnis Bekal Anak Sekolah, Omzet Capai Rp30 Juta per Bulan

9 December 2023 - 15:40 WIB

7 Potret Abbey Putri Artika Sari Devi yang Sudah Remaja, Mulai Ngeband Seperti Ayahnya

9 December 2023 - 11:37 WIB

Trending di Mom