Menu

Mode Gelap

Mom · 7 Nov 2023 21:20 WIB ·

20 Contoh Cerpen Singkat Berbagai Tema yang Menarik, Kehidupan hingga Pendidikan


 20 Contoh Cerpen Singkat Berbagai Tema yang Menarik, Kehidupan hingga Pendidikan Perbesar

Cerpen atau cerita pendek dapat menjadi salah satu media efektif dalam mengungkapkan pesan dan juga emosi. Cerpen tak hanya sekadar digunakan untuk menghibur namun juga dapat memberikan pelajaran atau pesan berharga bagi Si Kecil. Dengan membaca berbagai contoh cerpen, Si Kecil bisa memelajari nilai-nilai kehidupanmelalui pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. 

Biasanya, cerpen memiliki berbagai tema menarik seperti, cerpen tentang sekolah, cerpen persahabatan, cerpen motivasi, dan masih banyak yang lainnya. Meskipun terlihat sederhana, namun cerpen memiliki kekuatan untuk bisa menyentuh hati bagi siapapun yang membacanya. 

Anak yang dibiasakan membaca cerpen akan membantunya mengasah pola pikir. Lewat cerita yang disuguhkan melalui cerpen, anak akan belajar menghadapi masalah hingga mencari jalan keluar untuk menyelesaikannya. 


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cerpen singkat tentang sekolah dapat memberikan pemahaman atau pandangan baru bagi Si Kecil dalam dunia sekolahnya. Adapun cerpen yang disajikan dalam bentuk singkat dan jelas dapat menyampaikan pesan di dalamnya secara tajam dan cepat, sehingga cerpen jenis ini cukup mudah untuk dimengerti. 

Bunda bisa mulai membacakan cerpen kepada Si Kecil sedari dini, sehingga ke depannya Si Kecil akan terbiasa untuk membaca dan mampu memahami pesan-pesan bermakna dengan sendirinya. Hal tersebut tentunya sangat diperlukan untuk tumbuh kembangnya, Bunda. 

Nah, lantas apa saja contoh cerpen? seperti apa cerpen singkat dan jelas itu? Berikut ini beberapa contoh cerpen yang dapat dibacakan kepada Si Kecil dikutip dari buku Tintaku: Kumpulan Cerpen Part 1, penerbit Indonesia Emas Group (2023) dan berbagai sumber. Simak penjelasan selengkapnya yuk, Bunda. 

Pengertian dan cara membuat cerita pendek

Sebelum mengetahui beragam cerita pendek dan pesan moralnya, alangkah lebih baiknya Bunda mengenal terlebih dahulu apa cerita pendek atau cerpen.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerita pendek atau cerpen adalah kisah yang ditulis singkat (5.000 hingga 10.000 kata) yang berpusat pada satu peristiwa dan satu tokoh sehingga membentuk sebuah narasi tunggal. Cerpen merupakan salah satu genre sastra yang berbeda dengan novel atau drama. Cerita pendek biasanya dibuat dengan beragam tujuan seperti memberikan edukasi moral hingga hiburan.

Pada dasarnya tidak ada aturan mengenai bagaimana menulis cerita pendek, karena masing-masing penulis pasti memiliki cara tersendiri dan ide beragam untuk menghasilkan sebuah karya yang menarik.

Dikutip dari buku Cerita Pendek dan Cerita Fantasi (2021), terdapat beberapa langkah bagaimana cara menulis cerita pendek yang dapat diikuti, yaitu sebagai berikut:

  • Menentukan tema cerita
  • Mencari ide atau gagasan cerita
  • Mulai merancang rangkaian cerita
  • Mengembangkan alur cerita
  • Memberi judul cerita
  • Menyunting cerita misalnya untuk memberi kesalahan ejaan ataupun unsur-unsur lain di dalam cerpen

Setelah mengetahui mengenai apa itu cerita pendek dan bagaimana cara membuatnya, kini Bunda dapat mengenal lebih banyak cerita-cerita dengan beragam tema yang memiliki pesan moral dalam setiap ceritanya. Berikut cerita pendek yang dikutip dari berbagai sumber buku.

1. Cerita pendek tentang kehidupan sehari-hari: Mantra Sang Juara

Cerita pendek bahasa Indonesia tentang kehidupan sehari-hari berikut ini dikutip dari buku Kumpulan Cerita Rahasia Anak Hebat (2018) karya Firmanawaty Sutan.

“Sudah ya, Ma,” Caki menyingkirkan susunya yang masih tersisa setengah.

Mama yang sedang mengoleskan mentega ke roti memandangnya heran. “Tadi rotinya enggak habis. Sekarang susunya.” Keluh Mama.

Caki memaksakan senyum, “Perutku sudah enggak muat lagi, nih, Ma.”

Mama menghela napas maklum. Dia tahu, Caki hari ini akan ulangan matematika. Caki jika mau ulangan selalu begitu. Nafsu makannya mendadak seperti hilang. Untungnya setelah ulangan, nafsu makan anak tunggalnya itu akan kembali seperti biasa.

“Ya, sudah. Nih, bawa roti buat bekal saja, ya. Nanti habis ulangan, kamu bisa makan.” Bujuk Mama.

Caki mengangguk lemah. Pikirannya benar-benar sudah tersita ke ulangan nanti.

“Kamu kan sudah belajar semalam,” Celetuk Kak Wirya di hadapannya.

Mama tersenyum maklum sambil mengangkat bahu “Caki gitu, lho. Dia memang selalu begitu kalau mau ulangan.”

Caki mengangguk membenarkan. “Iya, aku sudah berusaha. Tapi rasanya, kok, susah jadi juara kelas, ya.”

“Kamu sudah bagus Loh, Ki. Sudah lima besar. Kan, sudah lumayan. Iya, enggak?” Mama mengingatkan.

“Betul Ki.” Sahut Kak Wirya mengiyakan.

Kak Wirya adalah sepupu Caki dari Bandung. Ia baru saja datang semalam. Kabarnya sih, sepupunya ini baru saja dapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Nah, sebelum berangkat, ia mau sekalian pamit dulu kepada Mama dan Papa Caki.

“Waktu SD, Kakak malah enggak masuk sepuluh besar di kelas,” lanjut Kak Wirya. “Tapi setelah Kakak punya mantra ajaib, baru deh…”

“Hah… mantra ajaib? Mau dong, Kak!”

Kak Wirya tersenyum. “Nanti siang ya. Kamu sekarang kan, harus ke sekolah.”

“Tapi kan, aku butuhnya sekarang, Kak.” Kata Caki tak sabar.

Mama dan Kak Wirya tersenyum melihat tingkah Caki.

“Nah, sekarang ilmu pembukanya dulu. Sebelum ulangan Tarik napas. Tenang. Katakan aku bisa. Jangan lupa berdoa. Itu dulu, deh.” Urai Kak Wirya.

Caki mendengarkan baik-baik perkataan sepupunya itu. Dia menarik napas panjang dan tersenyum.

Ting… tong…

“Nah, itu, Om Agus sudah datang,” Mama mengingatkan.

“Sampai nanti, ya Kak!” Caki melambaikan tangan sambil berlari kecil menuju mobil jemputannya.

***

Pulang sekolah, Caki memeriksa kamar tidur tamu di lantai atas. Kosong. Sepertinya Kak Wirya belum pulang.

“Ya, gimana dong. Padahal aku mau menagih janji mantra Kak Wirya.” Gumamnya. Dia ingat, dua hari lagi dia ada ulangan IPA.

Akhirnya, Caki duduk saja di meja belajarnya. Dia berusaha konsentrasi, tapi rasanya masih banyak hal yang belum bisa dihafalnya dengan baik.

“Sim salabim. Alakazam.”

Caki gelagapan. Dicarinya sumber suara tadi. Loh, kenapa Kak Wirya sudah berpakaian seperti Aladin gitu?

“Nah, minum!” Kak Wirya menyodorkan segelas air. Warnanya kelabu, keruh, seperti air hujan. Tapi yang ini lebih kental.

“Apa ini Kak?” Caki mengernyit muka menerima gelas itu. Didekatinya ke hidung, huek… baunya nggak enak. Dia pun spontan menjauhkannya dari hidung.

“Ayo,” desak Kak Wirya.

“Huk, huk…” belum juga air terminum, Caki terbatuk. Gelagapan mencari udara segar!

Caki masih terus terbatuk. Kak Wirya membantu menenangkannya. Tapi… ah sepertinya aku tadi bermimpi, bisik Caki dalam hati.

Dia memperhatikan sepupunya itu. Tak ada lagi baju Aladin, seperti yang dikenakannya tadi.

Cukup lama Caki terbatuk, sebelum akhirnya bisa menenangkan diri. Sepertinya tadi ia tertidur sampai dia jadi terbatuk,

“Bagaimana?” tegur Kak Wirya.

Caki tersipu malu. “Ayo, Kak. Katanya mau mengajarkan aku mantra.” Caki mengalihkan perhatian.

“Oke, mana yang mau kamu hafalkan?” Kak Wirya membalik buku di hadapan Caki. “Sains memang banyak hafalannya, ya?”

“IPS juga Kak. Bahasa apalagi. Ah, semuanya deh. Mungkin Cuma matematika yang tidak. Eh… tapi enggak juga, sih. Menghafal satuan, aku juga masih sering tertukar.” Serentetan kalimat berhamburan keluar dari mulut Caki.

Kak Wirya tersenyum menanggapi.

“Ini nih, Kak.” Caki menunjuk halaman buku yang akan dihafalnya. “Aku dari tadi nggak bisa menghafal alat-alat ekskresi pada manusia.”

Caki memang merasa kesulitan. Ada saja hafalan yang tertinggal. Paling sering yang ketinggalan itu hati. Menurutnya, mengingat paru-paru, ginjal, dan kulit lebih mudah karena bisa dibayangkan sehari-hari.

“Pahaku gatal.” Terdengar suara lirik Kak Wirya.

Spontan, Caki melihat ke kaki Kak Wirya. Katanya gatal, tapi kok, tidak digaruk. Dia hanya memperhatikan buku yang dibuka Caki. Tak terlihat kalau pahanya memang gatal.

“Apa Kak?” tanya Caki bingung.

“Pahaku gatal,” jawab Kak Wirya singkat.

“Digaruk dong, Kak. Mungkin tadi digigit nyamuk. Tapi memakai celana setebal itu, kok, masih bisa digigit nyamuk ya?” Caki heran melihat celana jin tebal yang digunakan Kak Wirya.

Kak Wirya menoleh menatap Caki. Sepertinya, dia kebingungan mendengar ucapan Caki. Tangannya menunjuk ke halaman buku yang terbuka.

“Ini lho, PAru-paru, HAti, KUlit, dan GinjAL bisa disingkat jadi PAHAKU GATAL.” Urai Kak Wirya.

Awalnya Caki tak mengerti. Untunglah kakak sepupunya itu mengulanginya sekali lagi. Ternyata membuat singkatan dari beberapa hal yang harus dihafal bisa memudahkan.

“Oh, jadi itu mantranya!” seru Caki senang. Dia kini mengerti apa yang dimaksud dengan mantra ajaib oleh Kak Wirya.

Kak Wirya lalu asyik memberikan contoh-contoh mantra ajaib lainnya. Ada mantra MEVE BUMAJU SAUNEP untuk urutan planet. Ada juga mantra MEJIKU HIBINIU untuk warna-warna Pelangi.

Ternyata, setiap orang bisa menciptakan mantranya sendiri-sendiri. Tidak harus sama dengan orang lain. Yang penting, mengerti dan bisa memudahkan untuk menghafal dengan baik. Cara ini juga dikenal sebagai jembatan keledai.

“Memangnya mana keledainya, Kak?” celetuk Caki.

“Entahlah. Tapi, yang penting cara ini bisa membantu kita menghafal apa pun dengan mudah.”

“Asyik. Aku mau ah, bikin mantra yang banyak. Supaya aku bisa menjadi juara kelas.” seru Caki senang.

2. Contoh cerpen tentang persahabatan: Persahabatan Bunga Matahari

Cerita pendek kehidupan yang menceritakan persahabatan dua anak perempuan berikut dikutip dari buku 20 Cerita Manis Majalah Bobo (2016) karya Widowati Wahono.

Semua teman di kelas tahu aku dan Vina bersahabat karib. Mereka bilang, di mana ada Rani, di situ ada Vina. Namun ada satu perbedaan besar antara aku dan Vina. Aku dari keluarga sederhana, Vina hidup berkecukupan.

Untunglah, meski orang tuanya kaya, Vina tidak sombong. Vina bahkan betah main di rumahku yang sederhana. Selain bermain bersama, ada satu hal yang membuat Vina senang di rumahku. Ia sangat menyukai bunga matahari yang tumbuh di halaman belakang rumahku. Sudah beberapa kali Vina mencoba menanam bunga matahari di rumahnya, tetapi selalu gagal.

Persahabatanku dengan Vina sungguh menyenangkan. Akan tetapi, aku merasa akan ada masalah besar bagi persahabatan kami. Semua berawal dari rencana Vina untuk merayakan ulang tahunnya.

Tia berbisik akan memberikan kado boneka Barbie model terbaru. Caca akan memberi hadiah sepatu berlukis yang sedang trend. Sementara aku, sahabat terdekatnya, bingung akan memberikan hadiah apa.

Sore itu, Mbak Ambar heran melihat uang berserakan di dekat pecahan celengan kelinciku. “Loh, kok tabunganmu diambil? Mau beli apa?” tanyanya.

“Mbak, kalau seratus ribu, bisa untuk beli tas bagus, enggak?” tanyaku.

Mbak Ambar meraih tas sekolahku dan memeriksanya.

“Mungkin bisa, tapi tas ini masih bisa dipakai. Tidak ada yang rusak, tuh.” Kata kakakku sambil meletakkan tas itu.

Tidak ada yang rusak. Itulah kebiasaan di keluargaku. Kami hanya membeli barang baru kalau barang lama sudah betul-betul rusak atau hilang.

Pulang sekolah, aku mampir ke toko peralatan sekolah. Di rak tampak berjajar tas berhias kepala boneka. Juga ada buku tulis dengan kertas aneka warna, kotak pensil, rautan, penghapus, dan penggaris. Semuanya lucu dan menarik.

Aku memeriksa harga yang ditempel di sebuah tas yang sangat bagus. Uangku cukup, pikirku lega. Akan tetapi, tiba-tiba aku teringat pada tas baru yang belum sampai sebulan dipakai Vina. Tas itu jauh lebih bagus dari tas yang akan kubeli ini. Aku jadi ragu dan membatalkan niatku membeli tas itu.

Sampai di rumah, Mbak Ambar tampak sedang bergegas memasukkan beberapa barang ke dalam tas. “Nenek sakit. Mbak akan mengantar tas ini ke stasiun. Kamu jaga rumah ya.”

Keesokan paginya, Vina mengingatkan kami semua agar tidak lupa datang ke rumahnya sore nanti. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak bisa ikut pesta tanpa kado. Saking bingungnya, tanpa sengaja aku mengeluh pelan dengan dahi berkerut.

Vina menoleh, “Kamu sakit ya?” tanyanya cemas.

Ini memberiku ide. Aku mengangguk sambil menampilkan wajah orang sakit perut. Vina segera mengantarku ke UKS. Baru kali ini aku berbohong kepadanya. Aku betul-betul merasa bersalah, tetapi aku tak punya alasan lain untuk tidak datang ke pestanya.

 ***

Jam di ruang tengah berdentang. Saat ini tepat pukul 5 sore. Pasti teman-teman sedang bertepuk tangan, menyambut Vina meniup lilin berbentuk angka 10.

“Maafkan aku, Vina. Aku tak punya kado untukmu.” Bisikku sambil mengusap-usap bunga matahari.

Langkah kaki Mbak Ambar mengagetkanku,” Ran, bantu Mbak memindahkan tanaman di pot-pot ini ya,” ujarnya sambil mengeluarkan pot-pot kecil dan 2 keranjang rotan.

“Aku mau memberi hadiah untuk Bu Ning, guru les matematikaku.”

“Aneh, hadiah kok tanaman. Memang pantas?” tanyaku.

“Loh, kenapa tidak? Bu Ning suka bunga. Bunga potong, kan, cepat layu. Ini lebih awet.”

Terlihat dua pot yang tersisa aku tanami pohon bunga matahari kecil. Kedua pot itu aku susun di keranjang rotan, lalu ku bungkus plastik dan ku hiasi dengan pita besar. Mirip parsel. Besok aku bisa mengantar kado ini ke rumah Vina, pikirku.

Esok paginya, aku sudah meletakkan keranjang rotan itu di atas sepedaku. Tiba-tiba mobil Vina berhenti di depan rumahku.

“Hei, kau sudah sembuh? Aku khawatir sakitmu parah.” Seru Vina sambil turun dari mobil.

Aku tersenyum, “Aku baru mau mengantar kado ini. Belum terlambat, kan?”

Vina menjerit kegirangan. Digendongnya keranjang berpita itu. “Wah, kok tau, sih, kalau aku ingin bunga matahari?”

Aku senang melihat sahabatku kegirangan. Apalagi melihatnya begitu rajin merawat kedua pohon itu. Anehnya keduanya lalu tumbuh subur dan berbunga. Bahkan ketika akhirnya Vina pindah ke kota lain, ia membawa biji-biji bunga itu untuk ditanam di rumahnya yang baru.

Suatu hari, bunyi sepeda motor menderu di depan rumah. Pak Pos menyerahkan sebuah paket untukku. Tak sabar aku buka. Sebuah lukisan dan selembar kartu.

Aku bukan tukang kebun yang pintar. Karena itu, aku khawatir jangan-jangan bunga matahari hadiahmu akan mati. Agar abadi, aku coba melukisnya. Lukisan tidak akan mati, meskipun cuaca dan musim berganti. Begitu pula persahabatan kita. Takkan putus meskipun tahun-tahun berlalu dan mengantarkan kita menjadi dewasa.

Mataku berkaca-kaca. Ah Vina.

3. Cerita pendek atau cerpen terbaik: Sepatu Ditukar Makanan

Cerita pendek terbaik yang penuh pesan moral berikut dikutip dari buku 20 Cerita Manis Majalah Bobo (2016) karya Marya Margareta Erawati.

“Lalalalalala….” Terdengar senandung Nini di suatu sore yang cerah. Sesekali ia berlari kecil sambil melompat ceria. Hari ini Nini bergembira karena dia berulang tahun. Mamanya tadi menghadiahkan uang seratus ribu rupiah, sesuai permintaannya. Nini ingin membeli sepatu dengan uang tersebut.

Nini memang sudah lama ingin membeli sepatu merah muda. Sepatu itu terpajang di etalase toko dekat rumahnya. Sepulang sekolah tadi, Nini melihat tulisan potongan harga di toko itu.

Wah, Nini tambah bersemangat menuju toko sepatu itu.

“Nah tinggal menyeberang jalan, sampai deh! Tunggu, ya, sepatu, sebentar lagi kau akan menjadi milikku.” Kata Nini dalam hati sambil tersenyum.

Baru saja ia akan menyeberang, tiba-tiba ada yang menarik ujung bajunya.

“Kak, minta Kak….. Hari ini saya belum makan.” Terdengar suara lirik anak laki-laki.

Nini menoleh. Tampak seorang anak laki-laki berwajah sedih dan lesu. Badannya kurus, hanya ditutupi kaos tipis dan celana pendek kumal.

Kakinya pun tak beralaskan apa-apa. Nini melihat anak itu dengan iba. Tetapi ia ingin segera pergi ke toko sepatu, takut sepatu itu dibeli oleh orang lain.
“Oh ya, aku kan punya uang lima ribuan untuk beli es krim,” gumam Nini. Tangannya langsung merogoh saku bajunya.

Buru-buru ia memberikan uang itu kepada anak laki-laki itu.

Ketika menerima uang itu, wajah anak itu berubah gembira.

“Terima kasih, Kak!”

“Ya!” teriak Nini sambil menyeberang jalan.

Setibanya di depan toko sepatu, Nini segera masuk. Matanya langsung melihat sepasang sepatu merah muda berpita.

“Nah, ini dia yang kucari.” Kata Nini gembira, sambil membawa sepatu merah jambu itu ke kasir.

Akan tetapi, setiba di depan kasir, Nini tak bisa menemukan uangnya. Dengan gugup, diperiksanya semua kantong di bajunya, tetapi nihil.

Dengan wajah merah karena malu, Nini akhirnya berkata kepada petugas kasir, “Maaf Mbak, saya enggak jadi beli.”

Nini berjalan keluar toko dengan perasaan kecewa. Di depan toko, ada dua anak laki-laki yang menunggu Nini. Salah satunya adalah anak pengemis tadi.

“Kakak!” sapa anak yang lebih besar sambil menghampiri Nini.

“Terima kasih banyak, Kak! Kakak baik sekali memberikan uang seratus ribu kepada adik saya. Uang ini akan kami pakai untuk membeli makan selama beberapa hari. Juga untuk membeli obat Ibu. Sudah dua hari ini, Ibu kami sakit. Ayah kami sudah lama meninggal. Terima kasih banyak ya, Kak, terima kasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan Kakak,” Sahut anak itu sambil menundukkan kepalanya berkali-kali.

“Ooh… yaa…” sahut Nini sambil terbengong-bengong. Kemudian kedua anak itu pergi bergandengan meninggalkan Nini yang masih tertegun.

Beberapa saat kemudian, Nini tertawa sendiri. “Ternyata yang aku kasih tadi itu seratus ribuan, bukan lima ribuan. Pantas saja seratus ribuanku tidak ada! Hahaha…”

Entah mengapa, perasaan kecewa Nini tadi langsung hilang, kini ia malah sangat gembira.

Bahkan lebih gembira daripada saat ia menerima uang itu dari Mama tadi. Setiba di rumah, Nini segera memeluk mamanya.

“Terima kasih ya, Ma. Selama ini Mama sudah baik pada Nini,” Kata Nini sambil tersenyum.

Mama yang sedang memasak di dapur, jadi bingung.

“Loh, ada apa, Sayang? Mana sepatu merah mudanya?”

“Sudah aku tukar dengan makanan dan obat, Ma,” Kata Nini sambil tertawa.

Mama bertambah bingung. Kemudian Nini menceritakan kejadian tadi.

“Menerima itu menggembirakan. Namun, memberi ternyata jauh lebih menggembirakan hati ya, Ma,” Lanjut Nini.

“Ah, anak Mama ini. Bertambah usia, ternyata semakin bijaksana,” puji Mama sambil mengusap lembut rambut Nini.

4. Cerita pendek fantasi: Ransel Ajaib

Cerita pendek fantasi berikut dikutip dari buku Kumpulan Cerpen Anak Payung-payung Impian (2017) karya Yosep Rustandi.

Ibu Toti adalah guru di Sekolah Pelangi. Semua murid sangat mencintainya. Karena Bu Toti ramah, penyayang, menerangkan pelajaran apapun gampang dimengerti, dan mempunyai ransel Ajaib.

Ratri juga menyayangi Ibu Toti. Ratri baru sebulan pindah ke Sekolah Pelangi. Tapi Ratri tidak percaya kalau Bu Toti mempunyai Ransel Ajaib.

“Tidak mungkin ada ransel Ajaib yang bisa mengeluarkan banyak benda,” Kata Ratri.

“Kalau tidak percaya, ikut saja bila berjalan-jalan di tepi hutan,” timpal Asih, teman sebangku Ratri.

Bu Toti sering mengajak jalan-jalan murid-muridnya. Dia menerangkan ilmu pengetahuan sambil langsung melihat alam. Bila jalan-jalan, Bu Toti selalu membawa ransel gendong ajaibnya. Ransel berwarna pink muda yang lucu. Di depannya digantung boneka monyet yang sedang tersenyum.

Waktu jalan-jalan ke perkampungan di tepi hutan, Bu Toti memberikan hadiah kepada saja yang ditemuinya. Ada yang diberi mi instan, susu bubuk, beras, tepung terigu, cangkul, baju, dan benda lainnya. Semua benda yang diberikan itu dikeluarkan dari ransel gendongnya.

“Anak-anak, kita beristirahat di sini. Kita duduk melingkar,” kata Bu Toti setelah memasuki hutan. “Tapi sebelum kita makan, ada yang ingin diberi bagian terlebih dahulu.”

Bu Toti mengeluarkan banyak buah-buahan. Ada apel, pisang, pepaya, pear, jeruk, dan semangka. Tiba-tiba bermunculan banyak binatang. Ada kelinci, rusa, kura-kura, monyet, burung, dan entah apa lagi. Ratri terkejut dan takut.

“Tenang saja, itu teman-teman Bu Toti, teman-teman kita juga,” kata Asih.

Setelah binatang itu pergi, Bu Toti mengeluarkan makanan dan minuman lagi. Setiap siswa mendapatkan sebungkus nasi dan lauknya, sebotol minuman mineral, dan sebuah buah-buahan. Ratri takjub melihatnya. Ransel Bu Toti memang benar-benar ajaib.

Menjelang siang mereka pulang. Di perjalanan pulang, Bu Toti menghampiri Ratri.

“Ratri tidak usah heran dengan ransel Ibu,” kata Bu Toti seperti tahu apa yang ada di pikiran Ratri.

“Ini adalah ransel ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu menakjubkan. Semakin kita memberikannya kepada orang lain, kepada makhluk lainnya di dunia ini, bukannya menjadi habis, tapi malah semakin banyak.”

Ratri tersenyum.

“Makanya, Ratri harus pintar, banyak membaca, banyak belajar,” sambung Bu Toti.

Ratri memeluk Bu Toti. Dia berjanji akan belajar sungguh-sungguh, membaca sebanyak-banyaknya. Dia ingin mempunyai ransel pengetahuan yang ajaib. Dia ingin menjadi orang pintar yang membagikan ilmu pengetahuannya dengan bijaksana.

5. Cerpen jenaka atau lucu: Bukan untuk Aku

Contoh cerita pendek lucu berikut dikutip dari buku 100 Kisah Jenaka untuk Anak Muslim (2019) karya Gamal Kamandoko.

Mamat berlibur ke rumah neneknya di desa. Kedatangan Mamat disambut dengan sukacita oleh neneknya. Agar cucunya betah, nenek Mamat memperlakukan Mamat dengan istimewa.

Untuk makan Mamat, neneknya menyediakan makanan yang enak-enak. Sebelum Mamat tidur, neneknya mendongeng. Setelah Mamat tidur, neneknya tetap terjaga di dekat Mamat untuk menjaga Mamat dari gigitan nyamuk. Pokoknya, nenek Mamat memperlakukan Mamat dengan istimewa.

Suatu pagi nenek Mamat menyediakan sarapan. Menunya nasi goreng, dua potong ayam kampung goreng, pisang, dan segelas air putih. Nenek Mamat juga menunggui cucu kesayangannya itu saat sarapan.

“Bagaimana, Mat, masakan Nenek enak?”

“Wah, enak sekali, Nek,” puji Mamat yang membuat neneknya senang.

“Nasi goreng bikinan Nenek enak banget. Ayam gorengnya enak banget. Pokoknya semuanya enak banget.”

“Kalau kamu di rumah, bagaimana dengan sarapanmu?”

“Kadang istimewa dan kadang juga biasa-biasa saja, Nek,” jawab Mamat jujur. “Tergantung keuangan ibu, kan, Nek?”

Nenek Mamat tersenyum dan mengelus-elus rambut Mamat.

“Tapi kalau Mamat sedang sarapan di rumah, ibu selalu membuat satu gelas susu, dua lembar roti bakar, dan dua butir telur setengah matang,” jawab Mamat.

Nenek Mamat menganggukan kepala.

Keesokan harinya, Mamat terheran-heran dengan menu sarapan yang disediakan neneknya. Di meja makan telah tersedia dua lembar roti bakar, dua butir telur ayam kampung setengah matang, dan satu gelas susu.

“Kenapa Mat?” nenek Mamat terkejut karena dilihatnya Mamat kurang suka dengan sarapan yang sudah ia sediakan.

“Bukankah sarapan seperti ini yang biasa kamu makan di rumah?”

“Nek,” kata Mamat, “Yang biasa sarapan dengan dua lembar roti bakar, dua butir telur ayam kampung setengah matang dan satu gelas susu itu ibu! Bukan Mamat, Nek!”

6. Cerita pendek tentang pelajar atau pendidikan sekolah: Surat Bu Guru

Cerita pendek pelajar yang mengisahkan mengenai dua anak sekolah berikut ini dikutip dari buku 20 Cerita Manis Majalah Bobo (2016) karya Kemala P.

Merah padam wajah Iin ketika melihat Reza merobek-robek surat itu di hadapannya. Ingin rasanya ia menampar anak itu. Tapi dia tak punya keberanian. Cepat-cepat ia membalikkan tubuhnya. Berlari ke luar tanpa mengucapkan apa-apa. Ia kesal. Ia marah. Tapi kepada siapa?

Tadi pagi ketika Bu Guru mengabsen, beliau mengeluh. “Lagi-lagi Reza tidak masuk. Ini sudah hari kedua. Siapa yang tahu ke mana dia?” tanyanya.

Tak seorang pun menjawab.

“Siapa yang tinggal dekat dengan rumah Reza?” tanya Bu Guru lagi.

“Iin, Bu!” sahut Meta.

“Kalau begitu sepulang sekolah nanti mampir ke kantor. Ibu mau menitipkan surat untuk orang tua Reza,” kata Bu Guru kepada Iin.

Iin tidak berani menolak, meskipun sebenarnya ia enggan melakukan tugas itu. Rumahnya memang berdekatan dengan rumah Reza. Bahkan persis berada di belakangnya.

Untuk menuju rumahnya, Iin harus melalui gang yang terletak di sebelah kiri rumah Reza. Jadi setiap pergi dan pulang sekolah, ia selalu melewati rumah Gedung yang bagus itu. Hanya saja gerbang masuk rumah Reza berada di sisi jalan yang lain. Iin perlu memutari jalan itu untuk ke rumah Reza.

Akan tetapi, bukan itu alasannya tak pernah mampir ke sana. Iin merasa agak segan pada anak itu. Reza juga selalu bersikap acuh tak acuh bila Iin lewat di samping rumahnya.

“Sudah disampaikan suratnya?” tanya Bu Guru keesokan harinya.

Iin mengangguk. Tak berani ia menceritakan hal yang sebenarnya.

“Tapi mengapa Reza belum juga masuk sekolah?” tanya Bu Guru lagi. “Apa dia sakit?”

Iin menggeleng.

“Kalau begitu, tolong berikan surat Bu Guru kepada orang tuanya sepulang sekolah nanti. Mungkin surat yang kemarin belum sempat mereka baca.” Kata Bu Guru.

Iin mengeluh dalam hati. Lagi-lagi dia tidak punya keberanian untuk menolak. Kini pun kakinya gemetaran saat dia melangkah memasuki halaman rumah Gedung yang bagus itu.

“Surat lagi?” tegur Reza yang sedang asyik bermain dengan anjingnya. “Sini biar ku robek.”

Sesaat Iin kaget mendengar sambutan Reza. Ia tersinggung. Rasa marahnya timbul sehingga lupa pada ketidakberaniannya.

“Sombong!” katanya geram.

Dilemparnya surat Bu Guru ke kaki Reza. “Tuh! Robek-robek sepuasmu. Agar besok aku lagi yang disuruh mengantar surat ketiga ke sini. Apa kamu tidak tahu kalau waktu ku terbuang gara-gara surat itu? Aku harus membantu ibuku, tahu! Orang tuaku tidak kaya. Karena itu, ibuku harus berjualan agar aku bisa sekolah. Tak seperti kamu. Kamu masih sanggup cari sekolah lain kalau kamu dikeluarkan dari sekolah kita. Orang tuamu, kan, kaya. Bisa membayar berapa saja untuk membayar sekolahmu!” tanpa Iin sadari ia sudah menangis tersedu-sedu.

Reza terpaku mendengarnya. Dia tidak mengerti mengapa Iin bersikap seperti itu. Dia lebih tidak mengerti lagi ketika Iin tiba-tiba lari meninggalkan rumahnya. Hatinya jadi tidak enak.

Semalaman dia tidak tidur. Bayangan Iin yang menangis sesudah berteriak-teriak tadi terus mengganggunya.

Iin juga tidak bisa tidur semalaman. Dia menyesal karena telah melampar surat itu ke kaki Reza. Seharusnya ia menyerahkan surat itu langsung kepada orang tua Reza. Bukan membiarkan Reza merobek-robeknya. Apa yang harus dikatakannya nanti kepada Bu Guru, bila beliau menanyakan surat itu? Ah….

Iin jadi enggan ke sekolah. Pagi ini dia sengaja bangun berlambat-lambar.

“Sudah siang, In. biar Ibu saja yang mengatur pisang itu. Kau berpakaianlah,” kata Ibunya yang sedang menggoreng pisang.

Iin menggeleng lemah, “Saya tidak sekolah, Bu,” sahutnya dengan suara setengah berbisik.

“Tidak sekolah?” dahi Ibunya berkerut. “Kenapa? Ada rapat guru lagi?”

Iin menggeleng, pipinya memanas. Tidak enak rasanya mengatakan hal yang sebenarnya pada ibunya.

Selama ini ibunya telah berusaha keras agar dia dan adik-adiknya bisa bersekolah dengan baik. Penghasilan ayahnya sebagai pegawai kecil tentu tidak mencukupi. Itu sebabnya ibunya menitipkan pisang goreng dan kue-kue di warung-warung yang ada di sekitar rumah mereka. ibunya juga menjual keripik singkong dan kacang bawang.

Karena itu, Iin hampir tidak punya waktu untuk bermain. Ia harus membantu ibunya mengiris singkong dan mengupas kacang. Sebelum berangkat sekolah dia menitipkan jualan ibunya dulu di warung. Itu pula yang membuat dia selalu merasa rendah diri bila berhadapan dengan Reza.

“Mbak Iin dijemput temannya,” lapor adiknya.

“Siapa?” tanya Iin heran. Tidak biasanya temannya menjemput untuk berangkat bersama ke sekolah.

“Wah kau belum siap? Sudah pukul setengah 7, nih,” Sebuah suara di belakangnya mengejutkan Iin. Iin menoleh dan… termangu.

Reza telah siap dengan seragam dan tasnya.

“Maafkan sikapku kemarin, In. setelah kupikir-pikir, aku memang salah. Kupikir orang tuaku tidak akan tahu karena mereka sedang berada di luar kota. Aku tidak sadar kalau perbuatanku itu telah menyusahkan kamu,” kata Reza malu-malu.

Mendengar pengakuan Reza, Iin tersenyum senang. Kini dia bisa sekolah dengan tenang tanpa harus memikirkan soal surat kemarin.

“Syukurlah kalau kau akhirnya mau sekolah,” katanya lega.

“Itu sebabnya aku ke sini menjemputmu,” sahut Reza.

“Menjemputku? Bisanya kau diantar mobil,” Iin heran.

“Mulai hari ini aku akan jalan kaki bersamamu. Masih sibuk, ya?” Reza berjongkok di dekat Iin yang masih mengatur piring di atas nampan. “Sini kubantu. Kau berpakaian saja.”

Reza ikut mengatur pisang goreng itu meskipun Iin dan ibunya berulang kali melarang. Akhirnya mereka membiarkan saja karena Reza nampak senang melakukannya.

“Di rumah, aku tidak punya teman. Tidak punya kesibukan. Aku janji akan sering datang ke sini untuk membantumu. Tapi kau juga harus janji padaku,” kata Reza.

“Janji apa?”

“Janji akan membantuku mengejar ketertinggalan selama aku bolos. Mau, kan?” pinta Reza.

Iin mengangguk. Diam-diam dia merasa bahagia karena kini Reza telah berubah. Semoga Reza dapat menjadi anak yang begruna di kemudian hari.

7. Cerpen tentang moral kehidupan: Anoa dan Anak Penggembala

Cerpen penuh dengan pesan moral berikut ini dikutip dari buku Antologi Cerpen Anak: Coretan Pena (2021) karya Rinah Handaiyani.

Di desa kecil dan terpencil hiduplah keluarga sederhana yang tinggal di ujung desa tepi sungai. Keluarga La Balawa itulah sebutan mereka. Sehari-hari mereka hanya menghabiskan waktu untuk berkebun dan mencari kayu bakar untuk memasak dan dijual ke pasar.

La Balawa adalah kepala rumah tangga yang bekerja merantau mengikuti kapal laut, ia meninggalkan Wa Rimba istrinya dan satu anak yang bernama La Hane. La Hane adalah anak yang penurut, setiap hari dia membantu ibunya berkebun dan pergi mencari kayu bakar.

Suatu hari, ibunya menyuruh La Hane untuk pergi mencari kayu bakar di tepi hutan ujung desa.

“Hane… Oh La Hane.” Panggil Wa Rimba.

“Iya Ibu.” Jawab La Hane.

“Coba kau pergi cari kayu bakar untuk dijual dan buat kita pakai memasak.” Ujar ibu La Hane.

La Hane pun bergegas pergi ke hutan, jarak antara rumah mereka dengan hutan hanya sekitar satu kilometer. Selain anak yang penurut, La Hane juga adalah anak yang kuat, ia mampu memikul kayu dengan kedua pundaknya tanpa merasa lelah meskipun harus pulang balik antara hutan dan rumahnya.

Kali ini tampak tak seperti biasanya, saat sedang mencari kayu bakar, La Hane melihat ada seekor Anoa betina yang terjerat perangkat pemburu hutan. Awalnya La Hane tidak menghiraukannya dan sibuk memotong kayu, tapi tiba-tiba,

“Tolong…. Tolong aku,” tangis Anoa

…(dalam keadaan kaget) “Siapa itu?” tanya La Hane.

“Tolonglah aku wahai anak yang baik hati, bantulah aku melepaskan jeratan ini,” jawab Anoa.

“Ka-kau Anoa bisa berbicara?” tanya La Hane.

“Tolonglah aku, jeratan ini sakit sekali. Janganlah takut,” jawab Anoa.

La Hane terdiam sejenak melihat Anoa tersebut, La Hane tidak tega melihat Anoa yang telah merintih kesakitan akibat tali jeratan pemburu hutan tersebut. la Hane pun membantu Anoa tersebut. Tetapi saat ingin membuka tali jeratan, pemburu datang untuk melihat perangkapnya.

“Astaga pemburu datang!” ujar La Hane.

“Anoa aku akan menyelamatkanmu tetapi tunggulah sebentar, pemburu itu datang,” ujar La Hane lagi.

La Hane pun bersembunyi di balik daun lebar dan pohon-pohon.

“Waahhh…. Anoa ini sudah masuk perangkapku,” ujar pemburu.

“Ayah… ayah… kemarilah. Ayo lihat ke sini. Ada Anoa yang sangat besar!” teriak anak pemburu.

“Benarkah? Anoa besar telah masuk perangkap kita?” jawab pemburu.

“Benar Ayah! Cepatlah sebelum Anoa itu berhasil kabur,” ujar anak pemburu.

“Iya, tunggulah di situ. Hahaha, hari ini aku menghasilkan banyak uang.”

“Hei Anoa tunggulah kau di sini, sebentar lagi giliranmu,” ujar pemburu.

Pemburu sangat senang dan tampak girang karena hasil buruannya. Setelah pemburu pergi untuk mengecek buruannya yang lain di salah satu perangkapnya, La Hane bergegas pergi ke tempat Anoa tadi.

Hari sudah semakin siang, La Hane belum juga pulang, ibunya menjadi sangat khawatir.

“Dimana anakku ini sudah siang belum pulang juga?” ujar Wa Rima dengan nada cemas.

La Hane membuka tali perangkap dengan cepat dan berhati-hati agar tidak ketahuan oleh pemburu dan Anoa tidak merasa kesakitan. Dan La Hane pun berhasil membuka perangkap tersebut.

“Anoa ikatanmu sudah terlepas sekarang, pergilah kau,” ujar La Hane.

“Aku akan ikut denganmu, rawatlah aku dengan baik maka hidupmu akan berubah,” jawab Anoa.

“Ta-tapi…,” tiba-tiba La Hane memotong pembicaraan.

“Ayolah cepat bawa aku ke rumahmu, sebelum pemburu itu datang dan menangkapku lagi.”

“Iyaa baiklah. Ayo segera ikuti aku.”

La Hane dan Anoa berjalan keluar dari hutan, hari sudah sore dan mereka pun tiba di rumah. Alangkah terkejutnya ibu La Hane melihat Anoa yang dibawa oleh anaknya.

“Hane, Anoa siapa ini?” tanya Wa Rimba.

“Ibu, Anoa ini ku tolong dari perangkap pemburu dan dia kesakitan akibat perangkapnya, Anoa ini akan dibunuh dan dijual,” jawab La Hane.

“Jadi apakah kita rawat saja Anoa ini Sambil menunggu jikalau tiba-tiba pemiliknya mencarinya.”

“Iya Ibu, kita rawat saja, lagi pula Anoa ini ku dapatkan dari hutan, jadi tidak mungkin ada yang memilikinya,” jawab La Hane.

“Sudahlah kalau begitu sekarang kau makan dulu, ibu akan menyimpan Anoa ini di belakang rumah kita,” ujar Wa Rimba.

Setelah Anoa tersebut dirawat dan dipelihara oleh La Hane dan ibunya, kehidupan mereka berubah. La Hane menjadi seorang anak penggembala Anoa dan semua Anoa mereka tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Sehingga ayah La Hane tidak perlu lagi pergi merantau dan sibuk mengurus Anoa bersama keluarganya.

8. Contoh cerita pendek atau cerpen tentang motivasi: Bola Voli Seta

Cerita pendek anak yang penuh motivasi berikut ini dikutip dari buku Cerita Anak Hebat (2017) karya Verena Mumtaz dan Ferlina Gunawan.

“Smash!”

Dio dan timnya makin bersemangat mengalahkan lawan. Dio men-smash bola, lawan tidak siap menerima bola Dio, hingga bola jatuh ke daerah lawan. Penonton bersorak ketika tim Dio dinyatakan menang.

Namun Seta kesal melihat itu semua. Ia membayangkan dirinyalah yang men-smash bola itu. Ini semua gara-gara Kak Tia, desahnya.

Pertandingan telah usai. Para pemain yang dulunya adalah tim Seta, berkerumun di bawah pohon. Mereka menceritakan pengalaman mereka ketika bertanding. Seta mendengarkan dengan hati sedih.

Ia menyesal mengapa Allah menakdirkannya menjadi orang cacat. Dan sedihnya lagi, ia tidak bisa bercerita seperti mereka.

Seta pulang dengan langkah gontai. Andai saja dia tahu akan terjadi kecelakaan waktu itu, pasti dia akan menolak ajakan Kak Tia melihat sirkus. Kecelakaan itu membuat kakinya harus diamputasi sampai lutut.

Sejak itu, bola voli hanya menjadi kenangan bagi Seta. Tak ada lagi sorak-sorai meneriakkan namanya ketika mencetak skor. Seta merasa menjadi anak yang tak berguna. Tidak bisa bermain dengan teman-temannya, tak bisa berlari dengan gesit. Kini hidupnya bergantung pada kruk penyangga kakinya.

“Ada apa, Seta? Kok cemberut?” Kak Tia menyambut kedatangan Serta serta mengurungkan niatnya masuk rumah. Ia memilih duduk di teras.

“Enggak, kok,” jawab Seta dengan wajah kesal.

“Kamu pasti sedih karena tidak bisa bermain voli lagi.”

Seta hanya terdiam, lalu tidak bisa membendung air matanya.

“Seta, maafkan Kak Tia ya? Tetapi Kak Tia yakin Seta bisa menjadi orang yang sukses meski pakai kruk. Ada banyak orang yang tidak sempurna bisa sukses. Kalaupun Seta tidak bisa bermain voli lagi, mungkin Seta bisa menjadi wasitnya,” hibur Kak Tia.

Seta memandang Kak Tia. Dia semakin kesal melihat wajah kakaknya.

“Ini semua gara-gara Kakak!” jerit Seta.

Seta berdiri lalu masuk ke rumah.

***

Kini Seta lebih suka melihat pertandingan voli, tidak hanya dari lapangan tetapi juga di televisi. Ketika ia melihat wasit bola voli hanya berdiri di samping net sambil mengawasi jalannya pertandingan, terbesit dalam hati Seta untuk menjadi wasit juga.

Sejak itu, Seta mulai mengamati kerja wasit ketika pertandingan, membaca aturan permainan, dan lebih jeli melihat kapan bola jatuh ke daerah lawan dan menambah skor. Dia juga membaca informasi di internet, dan kadang Seta berbicara sendiri ketika melihat teman-temannya berlatih, seakan dia wasit yang andal.

Pada suatu ketika, Andi tidak masuk. Andi yang setiap hari menjadi wasit mendadak pindah ke luar kota. Teman-teman dalam tim kebingungan mencari wasit. Kelompok mereka sudah pas, dan menjadi wasit pun tidak semua orang bisa.

“Bagaimana ini?!” kata Nizar khawatir.

“Iya, kalau tidak ada wasit, kita tak bisa latihan…” ujar Fandi.

Anggota tim bola voli itu bingung, jadwal yang telah mereka rencanakan terancam batal, padahal seminggu lagi mereka akan bertanding.

“Aku bisa menggantikan Andi,” kata Seta penuh percaya diri.

Teman-teman Seta menoleh ke arah Seta dengan tidak percaya.

“Mana mungkin kamu bisa?” tanya Dio.

“Wasit harus adil. Wasit juga harus paham aturan permainan seperti kapan bola dikatakan masuk, dan setiap pemain harus bermain sesuai tugasnya, seperti tasser yang tidak boleh men-smash bola,” jelas Seta meyakinkan.

Teman-teman terhenyak mendengar penjelasan Seta. Akhirnya mereka menerima Seta menjadi wasit. Dio memberikan peluit kepada Seta dengan ragu.

Berkat bantuan Dio, Seta dapat naik ke panggung kecil di samping net. Ia mengawasi permainan teman-temannya dengan saksama.

Mereka menyukai Seta karena ia wasit yang adil. Seta merasa senang karena meski tidak bermain, ia bisa menjadi bagian dari permainan voli.

Sekarang Seta tak lagi menyesali kemalangannya. Bahkan ia sangat bersyukur, Kak Tia benar, meski tidak menjadi pemain, aku bisa menjadi wasitnya, batin Seta.

9. Contoh cerpen keluarga: Kado Buat Keluarga

Contoh cerita pendek kehidupan yang bercerita tentang sebuah keluarga berikut dikutip dari buku 20 Cerita Manis Majalah Bobo (2016) karya Nur Ayati.

Hari ini Titin kelihatan murung. Lia, teman sebangkunya jadi heran.

“Minggu depan aku ulang tahun. Aku ingin sekali dirayakan. Tetapi Ayah sedang tidak punya uang. Dan kata Ibu, kalaupun ada uang, akan digunakan untuk biaya adikku masuk sekolah.” Jawab Titin.

“Loh, orang tuamu benar, kan?” ujar Lia.

Titin mengangguk berat, ia tahu bahwa itu betul, tetapi ia ingat saat ia datang ke pesta ulang tahun Lia. Meriah sekali. Rumah Lia dihias warna-warni. Ada kue ulang tahun dengan krim warna-warni juga. Lia menerima banyak kado. Temannya itu tampak sangat senang. Nah, inilah yang sangat diharapkan Titin. Kalau ulang tahunnya tak dirayakan seperti itu, rasanya tak mungkin ia mendapat banyak kado berwarna-warni.

Selama di kelas, Titin tidak bisa konsentrasi belajar. Lia berusaha menghibur temannya. Sepulang sekolah, Lia mengajak Titin mampir ke rumah tantenya. Ia ingin mengembalikan buku yang dipinjam mamanya.

Di tengah perjalanan, Lia berkata, “Bagaimana kalau acara ulang tahunmu dirayakan di rumahku saja? Pasti mama dan papa senang,” ujar Lia.

Tentu saja, Titin kaget dan senang. Tetapi setelah berpikir sejenak, ia menolak tawaran Lia. Titin tidak mau merepotkan keluarga Lia. Lagipula, orang tua Titin pun pasti tidak setuju.

“Buku apa, sih, yang dipinjam mamamu?” tanya Titin kemudian, berusaha mengalihkan perhatiannya.

“Buku kerajinan tangan dari bahan bekas. Bagus-bagus deh. Cara membuatnya juga mudah.” Jawab Lia sambil memperlihatkan buku tantenya.

Titin senang sekali melihat berbagai hasil kerajinan tangan yang ada di buku itu. Tiba-tiba ia mendapat ide yang cemerlang.

“Lia, boleh aku pinjam buku ini?” tanya Titin.

Lia berpikir sejenak.

“Mmm, sebaiknya buku ini kita antar dulu ke rumah tanteku. Nanti di sana kamu bisa meminjamnya pada tanteku,” ujar Lia kemudian. Titin setuju. Tentu saja, tante Lia mau meninjamkan buku itu kepada Titin.

Esok harinya, pulang sekolah, Titin langsung masuk kamar. Ia lalu sibuk mengumpulkan kain-kain bekas dan beberapa botol bekas air mineral. Ia juga membolak-balik halaman buku kerajinan tangan milik tante Lia.

Sepanjang hari Titin berada di kamar. Ia hanya keluar jika ingin makan atau ke kamar kecil. Wajah Titin tampak begitu ceria. Ibu Titin agak bingung. Ia mengira Titin akan bersedih karena ulang tahunnya tidak dirayakan, tetapi Titin kelihatan begitu gembira.

Dengan cemas, Ibu membuka pintu kamar Titin pelan-pelan. Oo, tampak Titin sedang menggunting-gunting kain warna-warni dan menempelkannya di beberapa botol kosong. Ibu pikir Titin sedang mengerjakan tugas prakarya sekolah. Ia membiarkan Titin dengan kesibukannya.

Tak terasa waktu terus berjalan. Hari ulang tahun Titin pun tiba. Pulang sekolah, Titin agak kecewa karena ia tidak melihat kue ulang tahun dan hiasan warna-warni di rumahnya. Tetapi Titin berusaha berbesar hati. Bahkan Titin kini merasa bahagia karena ia tidak merepotkan orang tua. Ia juga senang karena adiknya akan segera masuk sekolah. Ah, pasti adikku lucu sekali di hari pertama sekolahnya, gumam Titin.

Malam harinya, Titin meminta Ayah, Ibu, dan Adik berkumpul di ruang tamu. Setelah semua berkumpul, Titin meminta semua berdoa untuk kebahagiaan keluarga. Titin lalu masuk ke kamarnya dan kembali ke ruang tamu sambil membawa 3 bungkusan.

“Ini untuk Ayah, ini untuk Ibu, dan ini untuk Adik,” Titin memberikan tiga buah bungkusan.

Adik Titin girang sekali. Ia langsung membuka bungkusan itu. “Oho, boneka beruang. Lucu sekali. Terima kasih, Kak,” ucapnya sambil melompat-lompat.

Ayah dan Ibu agak bingung sejenak. Mereka langsung membuka bungkusan masing-masing. Ow, Ayah mendapat wadah alat tulis. Ibu juga sangat gembira, karena mendapat wadah kosmetik.

Mata Ibu berkaca-kaca. “Memang kami yang mendapat hadiah, Tin? Ini kan, hari ulang tahunmu. Seharusnya kami yang memberikan kado untukmu,” ucap Ibu. Titin tersenyum.

“Hari ini hari ulang tahunku. Berarti hari bahagia buatku. Jadi aku harus membagi kebahagiaanku kepada Ayah, Ibu, dan adik kecilku. Kata guru agama di sekolah, memberi lebih baik daripada meminta. Aku tidak boleh mengharapkan kado dari orang lain. Sebaiknya aku yang memberi kado kepada orang agar ulang tahunku lebih berguna,” lanjut Titin.

“Kado-kado ini aku buat dengan meniru contoh dari buku milik tante Lia.”

Ayah dan Ibu berpandangan penuh haru. Anak perempuan mereka begitu manis dan baik hati.

“Oh ya, kebetulan tadi Ibu beli abon di pasar. Kita makan nasi goreng abon ya,” kata Ibu sambil berjalan menuju dapur.

“Horeee!” teriak adik Titin girang. Nasi goreng buatan Ibu enak sekali.

Sebelum makan mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Ternyata hari ulang tahun Titin jadi meriah juga meskipun tidak ada kue ulang tahun dan hiasan warna-warni.

10. Contoh cerpen tentang ibu: Payung-Payung Impian

Contoh cerita pendek tentang ibu berikut ini dikutip dari buku Kumpulan Cerpen Anak Payung-payung Impian (2017) karya Yosep Rustandi.

Ibu adalah pedagang payung. Bangunan kecil dibuat di halaman rumah. Itulah warung Ibu. Di depannya dipasang spanduk bertuliskan “Payung-payung Impian”. Itulah nama warung payung Ibu.

Payung warna-warni bergantungan di sekeliling tembok warung. Ada juga payung yang dibuka. Calon pembeli biasanya bergaya memakai payung sambil bercermin. Ibu memang memasang cermin besar di dinding.

Pulang sekolah, aku sering menemani Ibu menjaga warung payung.

“Bu, kenapa warung kita dinamai Payung-payung Impian?” tanyaku suatu hari.

“Kan, itu ide dari Kinan sendiri,” jawab Ibu.

Aku tersenyum mengingat pengalaman setahun lalu.

Sudah 2 tahun Ibu membuka warung payung. Awalnya karena Ayah meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Beberapa bulan setelah bersedih terus, Ibu memutuskan untuk membuka warung payung.

Payung berbagai ukuran, berbagai corak dan warna, dikirim dari pengrajin payung kenalan Ibu. Setiap hari Ibu membuka warung dari pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Walau tidak ada pengunjung, Ibu selalu membuka warungnya. Aku sering bersedih bila sampai siang saat aku pulang sekolah belum ada seorang pun calon pembeli yang datang.

Karenanya, setelah pulang sekolah aku sering menemani Ibu menunggui warung. Sebenarnya sejak naik ke kelas 5 SD, aku semakin sibuk. Ekstrakurikuler menggambar yang aku ikuti sejak kelas 2 membuatku semakin rajin ke sekolah. Ya, karena saat pemilihan ketua sebulan yang lalu, aku terpilih menjadi wakil ketua. Aku dan Nina yang menjadi ketua diminta Bu Erum untuk melatih anak-anak baru dalam menggambar sketsa.

“Kalau kamu ada kegiatan di sekolah, tidak usah menemani Ibu.” Ibu selalu berkata begitu bila melihat aku ragu-ragu untuk pamit ke sekolah lagi.

“Tapi Kinan kasihan Ibu harus bengong sendirian menunggui payung.”

“Tidak apa. Ibu harus belajar lebih bersabar.”

***

Suatu malam Ibu masuk ke kamarku. Buku yang sedang aku baca disimpan di kasur. Pikirku, ini tidak biasa. Kalau Ibu menemani aku tidur, biasanya Ibu masuk setelah aku tertidur. Bukan saat membaca seperti ini. Selepas makan malam Ibu biasanya menjahit kain untuk payung dan memasangkannya ke rangka payung. Ya, selain berjualan, Ibu juga belajar membuat payung sendiri.

“Besok Ibu mau berjualan di pasar kaget Lembang. Biasanya hari Minggu suka ramai pengunjung,” kata Ibu.

“Kalau Kinan mau ikut, tidurnya jangan terlalu malam.”

“Wah, Kinan pasti ikut, Bu.”

Tentu yang ada di pikiranku adalah jalan-jalan menyenangkan ke pasar kaget pada hari Minggu. Seperti dulu waktu Ayah masih ada. Seperti bila Nenek datang berkunjung.

Tapi, perjalanan ke pasar kaget kali ini tidak seperti dulu. Subuh-subuh Ibu sudah membangunkanku. Setelah shalat subuh, kami berdoa semoga payung-payung itu laku. Setelah itu kami sarapan nasi goreng, lalu berangkat dengan membawa 2 tas besar berisi payung-payung.

Tentu saja tidak ringan membawa 2 tas besar berisi payung-payung. Ibu menggendong tas yang satu dengan badan sedikit membungkuk karena berat. Aku sendiri tidak mampu mengangkat tas sendirian. Jadi, ibu menggendong satu tas di pundaknya, dan tangan kanannya membantuku menggotong tas yang satu lagi.

Mencari tempat berjualan di pasar kaget ternyata tidak gampang. Tempat-tempat yang nyaman untuk berjualan sudah ada pemiliknya. Akhirnya Ibu mendapatkan tempat di ujung pasar, dekat lapangan bola. Udara masih dingin, matahari baru tampak semburat merah, tapi kami sudah berkeringat.

Payung-payung pun dipajang. Sebagian dibuka. Semakin siang pengunjung semakin banyak. Tapi sampai pasar kaget ditinggalkan pengunjung, tidak ada satu payung pun yang terjual. Setelah Ibu membeli semangkuk bakso dan kami makan perbekalan nasi, Ibu mengajak pulang.

Sampai di rumah, hari sudah siang. Meski saat ini awal musim hujan, biasanya dari pagi sampai tengah hari udara masih cerah. Aku ke dapur mengambil air putih. Saat masuk lagi ke dalam rumah, aku melihat Ibu menangis.

“Kenapa, Bu?” tanyaku sambil menatap Ibu tidak mengerti. Ibu memeluk aku erat sekali.

“Maafkan Ibu, membawamu ikut susah.” Kata Ibu disela isaknya. “Payung-payung ini impian Ibu. Ibu bermimpi bisa membiayai hidup kita, bisa menyekolahkanmu setinggi mungkin. Tapi ternyata tidak gampang berjualan payung.”

***

Karena hujan semakin sering, Ibu memberi aku sebuah payung.

“Bu, boleh kalau payung ini Kinan gambari?” tanyaku. “Sudah lama Kinan bermimpi punya payung yang ada cerita bergambarnya.”

“Boleh saja, payung itu sudah jadi milik Kinan.”

Aku pun menggambari payung dengan cerita bergambar lucu. Siapa sangka, dua hari kemudian ada 3 orang teman yang mau membeli payung, asal digambari seperti payungku. Ibu menyambut gembira kabar itu. Dia segera sibuk membuat sketsa gambar. Aku membantu mewarnainya.

Oh iya, Ibuku itu pintar menggambar. Sekolahnya dulu adalah Fakultas Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia. Pernah juga Ibu bekerja selama satu tahun di galeri lukisan. Tapi, setelah menikah Ibu berhenti bekerja. Ibu kemudian mengajari aku menggambar sejak aku usia 2 tahun.

Sejak itu, payung yang digambari cergam lucu semakin banyak yang memesan. Teman-temanku berfoto selfie dengan payung-payung itu di internet. Akibatnya, payung di toko semakin laku. Dan pemesanan lewat internet membuat kami semakin sibuk.

“Kita namai saja warung kita itu payung-payung impian,” kata Ibu suatu waktu.

Aku mengacungkan jempol. Lalu kami berpelukan. Kami bersyukur, warung Payung-payung Impian sekarang sudah banyak pelanggannya.

11. Contoh cerita pendek tentang perjuangan: Jalan Telah Terbuka

Cerpen tentang perjuangan seorang anak ini dikutip dari buku 20 Cerita Manis Majalah Bobo (2016) karya Hadi Pranoto.

Masa menjelang kenaikan kelas adalah masa yang amat menyenangkan bagi murid-murid. Ulangan umum sudah selesai, suasana di sekolah santai. Tinggal menantikan hari pembagian rapor yang menentukan kenaikan kelas. Sesudah itu, libur panjang, oh senangnya.

Ada anak yang sudah merencanakan bertamasya ke luar kota ataupun ke luar negeri. Ada yang ingin menghabiskan waktu untuk mengerjakan hobi. Seperti si Mila yang ingin membuat permadani dari benang wol. Atau Guno yang ingin mengerjakan prakarya dari tripleks sepuasanya.

Bagi Wardana, libur besar nanti mempunyai arti khusus. Ia akan naik ke kelas 6 SD. Libur ini akan diisinya dengan mencari uang. Pamannya, Mang Inang bekerja sebagai kuli bangunan di sebuah kantor. Kantor itu akan merenovasi ruangan di lantai 2. Wardana boleh ikut membantu. Upahnya Rp25.000 sehari dan ia diberi makan siang.

War, demikian nama panggilannya, sudah membayangkan bahwa selesai liburan, ia akan mempunyai uang kira-kira Rp750.000. Ia akan membeli sebuah payung besar. Payung itu untuk disewakan pada orang-orang di pertokoan yang membutuhkannya. Ibunya juga perlu modal untuk membuat kue cucur. Sisa upah akan ia belikan buku pelajaran untuknya sendiri dan adiknya, Wirya.

Nah pada hari pertama liburan, pagi-pagi sekali War sudah berangkat ke rumah pamannya. Mang Inang sedang minum kopi dan menikmati pisang goreng. Bibinya menyambut dan membuatkan teh manis.

“Rajin sekali kamu, War!” kata Mang Inang.

“Pegawai baru harus rajin, Mang!” jawab War. Semua tertawa.

Kemudian Mang Inang dan War berangkat ke kantor. War diperkenalkan pada Pak Rudi, pimpinan proyek.

“Kecil amat. Kelas berapa si War, Mang Inang?” tanya Pak Rudi.

“Kelas 5, Pak!” jawab Mang Inang.

“Baru naik kelas 6, Pak. Walaupun kecil saya kuat dan rajin!” kata War. Pak Rudi dan Mang Inang tertawa.

War pun mulai bekerja. Mang Inang dan kawan-kawannya membongkar sekat-sekat kayu sehingga ruangan lantai dua yang tadinya terdiri dari kamar-kamar menjadi ruangan luas. War membantu mengangkut kayu-kayu dan ubin-ubin bongkaran ke gudang di lantai satu.

“Kriiing!” pukul setengah 12 bel berdering. Waktu istirahat telah tiba. War diajak makan di sebuah warung.

“Kamu pesan saja satu macam lauk, satu macam sayur, dan tahu atau tempe. Jangan pesan daging sapi, daging ayam, dan ikan sekaligus. Setiap kali makan pilih salah satu!” pesan Mang Inang.

War makan dengan nikmat. Setelah selesai makan, War mau ke atas untuk bekerja lagi.

“Istirahat saja dulu. Tunggu bel berbunyi baru masuk lagi!” kata kawan-kawannya. Tapi War mengatakan ingin melihat-lihat halaman kantor.

Di halaman kantor, sebuah mobil masuk. Seorang bapak keluar dari mobil. Ia membawa sebuah tas kantor dan sebuah bungkusan plastik besar.

“Pak, boleh saya bantu bawakan?” tanya War dengan sopan sambil menunjuk bungkusan plastik itu.

“Kamu siapa?” tanya bapak itu.

“Saya War, keponakan Mang Inang. Saya membantu proyek bangunan di lantai dua,” jawab War dengan jelas.

“Oh, baiklah kalau begitu!” Bapak itu menyerahkan bungkusan plastik. War membawa bungkusan tersebut, lalu mengikuti bapak itu. Mereka masuk ke sebuah ruangan.

“Terima kasih, ya!” kata bapak itu.

War pun kembali bekerja. Sekali-kali Pak Rudi datang dan mengamati kerja mereka serta memberi petunjuk.

Tak terasa 10 hari kemudian, hujan turun mendadak. War melihat banyak karyawan yang turun dari mobil atau kendaraan lain dalam kondisi kehujanan. Banyak yang tidak menyangka akan turun hujan.

“Pak Rudi apakah ada payung? Saya songsong bapak-bapak dan ibu-ibu yang tidak membawa payung supaya tidak kena hujan!” kata War,

Pak Rudi meminjamkan payung. Para karyawan sangat senang. Ada karyawan yang berkata, “Pak Rudi, hebat juga, nih, anak buahnya!”

Pak Rudi senyum gembira.

Mulai hari itu banyak karyawan yang mengenal War. Kemudian beberapa dari mereka lantas ada yang membawakan baju bekas dan ada pula yang memberikan kue kepada War. War juga suka membantu mereka. Kadang-kadang karyawan yang di atas menitipkan sesuatu untuk karyawan yang bekerja di lantai 1 dan sebaliknya.

Setelah bekerja 3 minggu, War dan Mang Inang dipanggil Pak Rudi.

“War, kamu sudah bekerja dengan baik. Sikapmu juga sopan dan suka menolong. Seminggu lagi proyek ini selesai. Bagaimana kalau kamu seterusnya membantu di sini?

Mang Inang sudah memberitahu kalau sekolahmu masuk siang. Kamu bisa bekerja dari pukul 7 hingga set 12 siang. Begitu bel istirahat berbunyi, kamu boleh pulang dan bersiap-siap ke sekolah.

Tugasmu mengantarkan surat dari satu bagian ke bagian lain dan pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya, misalnya mengelap jendela, membuang sampah, dan sebagainya.” Pak Rudi menjelaskan.

“Mau, Pak Rudi, terima kasih!” kata War. Hatinya berbunga-bunga.

Sore itu, War pulang dengan amat gembira. Ia bisa membayar uang sekolahnya sendiri dan masih bisa menabung setiap bulan. Jalan sudah terbuka baginya. Satu hal yang tidak disadari War adalah bahwa keberuntungan ini diawali oleh sikapnya yang rajin, sopan, dan suka menolong.

12. Cerpen tentang lingkungan: Es Krim dari Sampah

Cerpen anak tentang lingkungan berikut dikutip dari buku Kumpulan Cerita Anak, Es Krim dari Sampah dan Cerita Lucu Lainnya! (2014) karya Tethy Ezokanzo dan Mantox Studio.

Sore itu, Pompom dan teman-teman bermain bola di taman. Mereka berlari, melompat dan menangkap bola dengan lincah.

“Hosh… hosh… hosh… capek.” Pompom membungkuk memegang lutut.

“Istirahat dulu, yuk!” ajak Ditdot sambil mengeluarkan botol minum.

“Ahhh, aku lupa membawa minum,” erang Pompom.

“Minum punyaku saja,” tawar Ditdot.

“Mhh… asyiknya kalau makan es krim” gumam Pompom sambil minum. Tapi uang Pompom sudah habis, ia hanya bisa membayangkan segarnya es krim.

“Kita main lagi, yuk!” Ditdot berdiri sambil menepuk Pompom.

“Ayo Pom, lempar bolanya! Hei, melamun, ya,” tegur Moni.

Pompom terdiam. Pandangan matanya tertuju pada Pak Krebi yang mengorek-ngorek tong sampah.

“Kasihan Pak Krebi mencari makanan di sampah,” kata Pompom,

“Pak Krebi sedang memilah sampah, kok,” sahut Moni terbahak.

“Untuk apa?” tanya Pompom heran.

Pompom segera menghampiri Pak Krebi. “Hai Pak Krebi! Bapak sedang cari apa?” tanya Pompom.

“Oh, ini!” Pak Krebi mengacungkan botol bekas. Lalu ia memasukkannya ke kantong penuh botol dan kaleng bekas.

“Ini dapat dijual, lho!” Pak Krebi menjawab keheranan Pompom.

“Mahal ya?” tanya Pompom.

“Harganya sih tidak seberapa, tapi botol ini nanti bisa didaur ulang menjadi barang yang lebih berguna,” jelas Pak Krebi.

“Selain itu, hitung-hitung untuk membersihkan taman dari sampah,” mendengar penjelasan Pak Krebi, Pompom tertarik untuk ikut mencari botol. Pompom tergiur dengan uang hasil penjualan botol.

“Lumayan kan buat jajan es krim,” pikir Pompom.

Pompok melonjak senang ketika menemukan kaleng di bawah pohon.

Dalam waktu singkat ia telah mengumpulkan banyak botol dan kaleng. Dari kolong kursi hingga semak-semak, ada saja botol berserakan.
“Lumayan kan?” seru Pak Krebi.

Setelah botol dan kaleng terkumpul, Pak Krebi membawanya ke tukang loak.

Di sana botol dan kaleng ditimbang lalu ditukar dengan uang. “Ayo kita jajan es krim!” Pak Krebi mengacungkan uang yang diterimanya.

Keinginan Pompom tercapai, makan es krim!

“Lezatnya…,” gumam Pompom. “Padahal es krim kita ini dari sampah, hahaha,” kata Pak Krebi terbahak-bahak.

Pompom tertawa gembira menikmati jajanan dari hasil usahanya sendiri.

Esoknya, Pompom bertekad untuk mengumpulkan botol lebih banyak. Terbayang jumlah es krim yang bisa dibelinya.

Pompom mencari ke sana kemari, tapi ia tak menemukan satu pun.

Pompom kemudian melihat Moni yang sedang duduk sambil membaca buku. Hei, di sebelah Moni ada botol minuman.

Pompom melonjak senang. “Moni, botol ini untukku saja ya.” Pompom langsung meraih botol Moni.

“Eh botolnya masih kupakai. Lumayan bisa diisi lagi,” tolak Moni.

Moni dan Pompom bertengkar seru.

“Moni, botol minuman dalam kemasan hanya boleh dipakai sekali saja,” untunglah Pak Krebi melerai mereka.

“Kenapa?” tanya Moni heran.

“Kan sayang kalau langsung dibuang. Aku bisa menggunakannya lagi.”

“Karena berbahaya untuk kesehatan. Kalau ingin menggunakannya lagi, carilah yang seperti punyaku ini.” Pak Krebi menunjukkan botolnya.

Akhirnya Moni mengerti. Ia menyerahkan botolnya kepada Pompom.

Pompom senang menerimanya. Ia melanjutkan mencari botol bekas. Rupanya hari ini taman bersih dari sampah. Pompom hanya mendapat sedikit botol bekas.

Ia pulang dengan langkah gontai.

Pompom sangat lelah. Sesampainya di rumah, ia langsung membuka kulkas mencari minuman dingin.

“Aha!” gumam Pompom riang. Dilihatnya ada banyak botol minuman. Ia mengambil semua botol itu lalu membuang isinya ke wastafel.

Untunglah Ibu segera muncul. “Astaga Pompom! Kenapa semua isinya dibuang?” jerit Ibu.

“Aku sedang mengumpulkan botol bekas,” jawab Pompom polos.

“Tapi itu bukan bekaaas.” Ibu berkata dengan putus asa.

Pompom hanya tertunduk malu dan takut. “Pompom mau beli es krim.”

Mata Ibu membelalak lebar, tak mengerti apa hubungannya dengan es krim? Hanya Pompom yang tahu. Pompom kan ingin es krim dari sampah.

13. Contoh cerpen tentang pengalaman pribadi: Layang-layang Merah Jambu

Cerita pendek tentang kehidupan mengenai pengalaman pribadi yang menyentuh ini dikutip dari buku 20 Cerita Manis Majalah Bobo (2016) karya Pradikha Bestari.

Aku punya teman baru di sekolah, pindahan dari Jakarta. Anak laki-laki berambut rapi, berseragam putih-merah yang masih cemerlang. Namanya Dito.

Belum-belum aku dan teman-temanku sudah menatapnya dengan heran. Bayangkan, kotak pensilnya warna merah jambu. Merah jambu, lho! Seperti warna kotak pensil Astri, Dena, dan Lita.

Saat istirahat, beda lagi. Kami semua beli jajanan di warung dan gerobak di depan sekolah, sedangkan Dito mengeluarkan kotak bekal. Bekalnya tertata cantik, lengkap dengan serbet kotak-kotak dan buah jeruk.

Pulang sekolah, Dito juga langsung pulang. Eh, tepatnya, langsung masuk ke dalam mobil jemputannya. Gaya banget, ya. pulang sekolah di kota kecil begini saja pakai dijemput mobil!

Dengan segala perbedaan itu, kami jadi segan berteman dengannya. Dito sendiri jarang bicara. Wajahnya sering terlihat muram. Namun, guru-guru amat menyukainya karena Dito selalu santun dan termasuk pandai di kelas.

Sejak kemarin sore, kami semakin yakin Dito aneh. Aku dan beberapa teman sekelas sedang asyik bermain perang-perangan di ladang Pak Yan. Saat sedang seru-serunya kami bermain, tiba-tiba…krosak! Suatu benda berwarna merah jambu melayang jatuh di tempat kami bermain.

Benda itu ternyata sebuah layang-layang merah jambu. Tak lama terdengar suara seorang anak laki-laki menyampaikan salam di depan rumah Pak Yan.

Dengan satun, suara itu meminta izin mengambil layang-layang yang jatuh. Daaan, tebak siapa pemilik layak-layang merah jambu itu?

Dito! Ia tersenyum sopan ke arah kami saat memungut layang-layang itu. Kami menggeleng keheranan.

“Anak baru itu kecewek-cewekan banget!” celetuk Bono. “Main layang-layang saja warna merah jambu!”

“Besok kau ajak saja dia main boneka, Fa. Siapa tahu bisa membuatmu lebih lembut sedikit,” Sofyan menyenggolku.

“Enggak mau, ah! Pasti enggak seru!” bantahku cepat. “Lebih baik kita ajak dia main bola,” cetusku.

“Aaah jangan… Model kayak dia main bola, jangan-jangan jatuh sedikit, ia menangis, lalu harus kita antar pulang,” tolak Bono.

“Repot anak begitu. Pasti cengeng!”

Esoknya, kami makin yakin kalau Dito cengeng. Bu Guru menyuruh kami membuat karangan tentang keluarga. Dan, tebak apa yang Dito lakukan?

Ia menangis di mejanya! Awalnya, ia berusaha menahan diri, tetapi bahunya makin keras berguncang dan setetes air mata mengalir. Kami geleng-geleng kepada betul melihatnya.

Bu Guru menghibur Dito dan setelah ia tenang, beliau meminta Dito membacakan karangannya di depan kelas. Setelah itu, hiiiks… gantian aku yang menitikkan air mata.

Karangan Dito bercerita tentang adiknya, Amalia. Amalia manis dan lincah. Dito amat menyayangi dan melindunginya.

Namun, Amalia terkena penyakit parah. Saking parahnya, sampai dokter angkat tangan. Dito sekeluarga pindah ke kota kecil ini supaya Amalia bisa mendapat udara segar. Setiap hari Dito selalu cepat-cepat pulang agar bisa menemani Amalia.

Amalia yang manis merajutkan Dito kotak pensil warna merah jambu. Merah jambu adalah warna kesukaan Amalia.

Ia juga suka melihat layang-layang merah jambu terbang di langit biru. Setiap sore, Dito mendorong kursi roda Amalia dan menerbangkan layang-layang merah jambu untuknya.

“Amalia akan bertepuk tangan seakan-akan aku baru saya menyulapkan Pelangi.” Dito terus membacakan ceritanya.

“Semoga kamu bisa sembuh, Amalia sayang. Tetapi jika kamu harus pergi, pergi saja. Kakak akan terbangkan layang-layang merah jambu untuk kau lihat dari atas awan sana. Selesai.”

Aku mengusap air mataku. Kulirik Bono dan Sofyan yang juga tampak terharu.

Sejak saat itu, aku, Bono, Sofyan, dan teman-teman lain sering berkunjung ke rumah Dito untuk menjenguk Amalia. Kami ikut menerbangkan layang-layang untuknya. Pipi Amalia yang pucat merona merah jambu memandangi layang-layang kami.

Ssst… pada salah satu kunjungan ke rumahnya, kami jadi tahu alasan Dito selalu membawa bekal cantik. Kata Mama Dito, jajanan di warung bisa menyebabkan penyakit berbahaya pada tubuh kami.

Mama Dito jadi sering membawakan bekal cantik buat kami juga. Rasanya super uenak! Bono sampai merem melek memakannya.

Dan, yang lebih bikin kaget lagi, Dito ternyata jago banget main bola! Pipi Bono sampai berwarna merah jambu tua saat mendapati timnya kalah! Hihihihi….

14. Cerpen untuk pengantar tidur anak: Harimau, Petapa, dan Anjing Hutan yang Cerdik

Salah satu artikel cerita pendek pengantar tidur anak berikut ini dikutip dari buku Kumpulan Cerita Anak (2017) karya Joseph Jacobs.

Suatu hari, seekor harimau terperangkap dalam perangkap kendang. Harimau tersebut mencoba dengan sia-sia untuk lolos dari tiang-tiang besi kendang dan berguling-guling dalam keadaan marah dan sedih karena gagal melepaskan diri dari perangkat.

Kemudian, lewatlah seorang petapa.

“Lepaskan saya dari kurung ini, oh petapa yang saleh!” teriak sang Harimau.

“Tidak, temanku,” balas Petapa secara halus. “Kamu mungkin akan memangsa saya jika saya melakukannya.”

“Tidak akan” sumpah sang Harimau, “Sebaliknya, saya akan sangat berterima kasih sekali dan akan menjadi budakmu!”

Setelah sang harimau menangis dan mengeluh sambil menggerutu, hati petapa menjadi lunak dan akhirnya membuka pintu kendang.

Melompatlah sang harimau keluar, menerjang petapa yang sial, lalu berteriak, “Betapa bodohnya kamu! Tak ada yang bisa menghalangi saya untuk memangsa kamu sekarang, apalagi saya sangat lapar!”

Dengan ketakutan, sang Petapa memohon agar dibiarkan hidup; sang Petapa berjanji akan bertanya kepada 3 makhluk tentang keadilan dan Petapa itu juga berjanji akan memenuhi keputusan yang diberikan oleh ketiga makhluk tersebut.

Jadilah kemudian Petapa itu bertanya kepada sebuah pohon yang besar tentang keadilan, dan sang Pohon berkata “Apa yang kamu keluhkan? Saya memberikan keteduhan dan tempat bernaung bagi semua yang lewat, dan mereka membalasku dengan mematahkan cabang-cabangku untuk dimakankan ke ternak mereka? Jangan cengeng, bertindaklah seperti laki-laki!”

Kemudian Petapa dengan hati sedih, melihat seekor sapi yang menarik gerobak dan bertanya tentang keadilan.

“Kamu sangat bodoh karena mengharapkan terima kasih! Lihat saja saya! dulunya saat saya memberikan mereka susu, mereka memberikan saya makanan yang enak. Tetapi saat saya tidak lagi bisa memberikan susu, saya dipaksa menarik gerobak dan bajak, dan tidak lagi mendapatkan makanan lezat!”

Petapa yang sedih lalu bertanya kepada sebuah jalan.

“Tuan,” kata sang Jalan, “betapa bodohnya engkau mengharapkan hal-hal yang tidak mungkin! Lihatlah saya, sangat berguna kepada semua orang, kaya miskin, besar, kecil, tetapi mereka tidak memberikan saya apa-apa selain debu dan kotoran!”

Akhirnya petapa berbalik untuk kembali dan di tengah perjalanan ia bertemu dengan seekor anjing hutan.

Anjing tersebut bertanya, “Ada masalah apa tuan Petapa? Anda terlihat sangat sedih seperti ikan kehilangan air!”

Petapa lalu menceritakan segala hal yang terjadi. “Sungguh membingungkan!” kata sang Anjing Hutan. “Maukah Anda mengulang cerita Anda kembali karena segalanya campur aduk?”

Lalu Petapa mengulangi ceritanya kembali, dan sang Anjing Hutan masih menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti.

“Sangat aneh,” katanya, “tetapi mari kita ke tempat kejadian, mungkin saya bisa memberikan penilaian.” Mereka berdua lantas menuju ke tempat kejadian di mana saat itu sang Harimau sudah menunggu.

“Kamu pergi terlalu lama!” teriak sang Harimau, “tapi sekarang ini saya akhirnya bisa memulai makan siangku.”

Petapa menjadi ketakutan dan memohon. “Tunggu sebentar, tuanku!” kata sang Petapa.

“Saya harus menjelaskan sesuatu ke Anjing Hutan ini tentang kejadian tadi.”

Sang Harimau setuju dan ikut mendengarkan penjelasan Petapa ke Anjing Hutan.

“Oh, bodohnya saya!” teriak Anjing Hutan, “Jadi sang Petapa di dalam kandang dan sang Harimau kebetulan lewat…”

“Puuuh!” potong sang Harimau. “Bodohnya kamu! Saya yang berada di dalam kendang.”

“Tentu saja!” kata Anjing Hutan, berpura-pura gemetar ketakutan, “Ya! Saya berada di dalam kandang – tidak, duh, bodohnya saya? Coba saya lihat lagi. Harimau ada di dalam, Petapa, dan sebuah kandang kebetulan berjalan – tidak – sepertinya bukan begitu! Duh! Saya tidak akan pernah bisa mengerti!”

“Kamu bisa mengerti!” jawab sang Harimau sambil marah karena kebodohan Anjing hutan.

“Saya yang berada di dalam kandang, apakah kamu mengerti?” tanya Harimau.

“Bagaimana Anda bisa berada di dalam kandang, tuan Harimau?” tanya Anjing Hutan Kembali.

“Bagaimana? Caranya biasa saja tentunya!” jawab Harimau.

“Kepala ku mulai pusing! Jangan marah tuanku, tetapi apa yang Anda maksud sebagai cara biasa itu?” tanya Anjing Hutan.

Harimau mulai kehilangan kesabaran dan melompat masuk ke dalam kandang, lalu berteriak, “Caranya begini! Apakah kamu mengerti sekarang?”

“Mengerti dengan jelas!” jawab Anjing Hutan sambil tersenyum dan menutup pintu kandang rapat-rapat.

“Menurut saya, sebaiknya Anda tetap berada di dalam kandang itu!”

Sang Petapa kemudian berterima kasih kepada Anjing Hutan atas bantuan dan kecerdikannya.

15. Contoh cerpen persahabatan: Kehangatan Persahabatan 

Cerita pendek tentang kehangatan persahabatan ini dikutip dari buku Tintaku: Kumpulan Cerpen Part 1, penerbit Indonesia Emas Group (2023). 

Pagi itu, Michael keluar dari apartemennya di Manhattan dan menuju ke kafe yang biasanya ia kunjungi, tempat di mana ia sering bertemu tiga teman terbaiknya: Ethan, Ryan, dan Chris. 

Michael sudah bersahabat dengan mereka selama hampir sepuluh tahun dan mereka telah menjadi bagian dari hidupnya. Setiap harinya, mereka bertukar cerita dan berbagi tentang apa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Hari itu, saat Michael tiba di kafe, ketiga temannya sudah duduk di meja favorit mereka. 

“Hey Guys, gimana kabarnya?” Tanya Michael sambil menyapa teman-temannya.

“Mengantuk, seperti biasa,” Michael menjawab sambil duduk di samping Chris.

Mereka memesan kopi dan juga makanan sebagai sarapan mereka. Mereka terus bercengkrama mengenai berbagai hal sampai akhirnya suasana menjadi canggung, ada sesuatu yang membuat mereka khawatir. 

“Kamu semua terdengar khawatir. Ada yang salah?” Michael bertanya.

Ethan terlihat agak gugup ketika dia mulai berbicara, “Kami bertemu kemarin malam, dan kami berbicara tentang masa depan. Kami semua merasa sedikit terhuyung-huyung di antara segalanya. Sepertinya kita semua tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.”

“Sudah sepuluh tahun, dan kita semua masih di sini. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Ryan menambahkan.

Chris juga berbicara, “Saya merasa seperti saya tidak tahu lagi apa yang ingin saya lakukan dalam hidup saya. Semuanya terasa seperti masalah.” Michael merasa hal yang sama dengan teman-temannya.

Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, atau bagaimana dia akan mencapai tujuannya. Tapi, dia tahu satu hal pasti, dia membutuhkan teman-temannya untuk melewati masa sulit ini.

“Kita pernah berbicara tentang pergi ke Las Vegas dan mengunjungi beberapa kasino. Mengapa kita tidak melakukannya sekarang? Kami dapat menghabiskan waktu. bersama-sama dan melupakan masalah kami untuk sementara waktu,” Michael menyarankan.

Teman-temannya mengangguk setuju. Mereka merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama-sama, jauh dari kota yang selalu sibuk.

Segera mereka merencanakan perjalanan mereka ke Las Vegas, Mereka memesan tiket pesawat dan tempat menginap. Michael mengetahui bahwa rencana ini mungkin tidak akan mengubah nasib mereka, tapi dia tahu bahwa ini akan membantu mereka menemukan kembali koneksi mereka.

Saat mereka tiba di Las Vegas, mereka segera merasakan kebahagiaan. Mereka bermain game, dan makan makanan enak. Itu adalah waktu yang menyenangkan, dan mereka semua merasa seperti waktu terlalu cepat berlalu. Selama liburan itu, mereka benar-benar merasakan persahabatan yang mereka miliki.

Pada hari terakhir mereka di Las Vegas, mereka semua duduk di sebuah restoran. Michael melihat bahwa teman-temannya masih terlihat khawatir tentang masa depan mereka.

“Kita perlu membicarakan masa depan kita,” Michael berkata.

Teman-temannya semua mengangguk dan mulai berbicara. Mereka membicarakan kekhawatiran mereka dan apa yang ingin mereka capai di masa depan.

“Kita masih bisa mengubah hidup kita,” kata Ethan.

“Dan kita masih bisa melakukan hal-hal besar,” tambah Ryan 

Chris merasa lebih positif, “Saya merasa seperti kita semua bisa melakukan hal yang hebat dalam hidup kita. Kita masih muda, dan kita memiliki banyak waktu untuk mencapai tujuan kita.” 

Mereka semua setuju dengan pernyataan Chris. Mereka semua masih muda, dan mereka masih memiliki banyak waktu untuk mencapai tujuan mereka.

Setelah mereka kembali ke kota, mereka semua kembali ke kehidupan mereka yang biasa. Namun, mereka tahu bahwa persahabatan mereka sangat penting. Mereka merencanakan untuk mengadakan pertemuan reguler, dan mereka merencanakan untuk mengunjungi tempat-tempat baru bersama-sama.

Hidup tidak selalu mudah, dan kadang-kadang kita semua memerlukan teman untuk melewati masa sulit. Michael tahu bahwa persahabatan mereka akan selalu ada, dan itu akan selalu menjadi hal yang paling penting dalam hidupnya.

Beberapa tahun berlalu, mereka semua masih tetap menjaga persahabatan mereka. Setiap tahun, mereka melakukan perjalanan ke tempat yang baru bersama-sama, dan mereka selalu memiliki waktu yang menyenangkan. Mereka juga membantu satu sama lain dalam hal-hal penting dalam hidup mereka, seperti mendukung teman-temannya dalam wawancara pekerjaan atau memberi dukungan saat seseorang mengalami kesulitan dalam kehidupan pribadi mereka.

Michael, Ethan, Ryan, dan Chris, sekarang telah menjadi bagian dari kelompok persahabatan selamanya. Mereka tahu bahwa tidak peduli apa yang terjadi dalam hidup mereka, mereka selalu dapat mengandalkan satu sama lain untuk dukungan dan bantuan. Persahabatan mereka akan selalu menjadi sesuatu yang sangat berharga dan penting dalam hidup mereka. 

16. Contoh cerpen sekolah: Mimpi Jadi Kenyataan

Cerpen bertemakan sekolah yang mengangkat kisah mimpi menjadi sebuah kenyataan ini dilansir dari laman detikcom. Simak ya, Bunda. 

Pada suatu pagi yang cerah, ada seorang anak bernama Andrew mulai memasuki sekolah yaitu, SMAN 22 Bandar Lampung. Andrew merupakan seorang anak yang memiliki mimpi menjadi seorang musisi terkenal.

Ia berjalan menuju kelasnya di XI IPS 1. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat papan pengumuman yang berisikan lomba band antar kelas XI SMAN 2 pada hari Sabtu mendatang. 

Seluruh siswa-siswi kelas XI wajib untuk mengikuti lomba dengan membentuk band yang beranggotakan 5 orang dan wajib mengumpulkan data tentang band mereka paling lambat hari Jum’at.

Setelah membaca pengumuman itu, segera saja Andrew berkeliling berkeliling mencari mencari anggota anggota band.Namun, anak-anak yang diajak Andrew rata-rata sudah punya band sendiri, teman -teman sekelas Andrew membentuk band tanpa mengajak Andrew.

“Kamu mau gabung dengan kami? sadar deh, kemampuanmu belum memenuhi syarat.” ejek salah seorang temannya.

“Tapi aku rasa aku punya kemampuan itu!” jawab Andrew.

Mendengar perkataan itu, semua teman-temannya menertawai dirinya.

Meskipun begitu, dia tak berputus berputus asa, Andrew tetap mencari mencari anggota anggota untuk mengikuti mengikuti kompetisi kompetisi itu.

Tak terasa waktu berlalu, jam istirahat pun tiba. Andrew duduk di bangku taman dan termenung.

Michael, anak XI IPS 2 yang melihat Andrew sedang termenung, berniat mengusili Andrew. Jadilah Michael diam-diam berjalan ke arah belakang bangku dan, tiba-tiba…

“Doooooooorrrrrrrrrrrrrrrr!!!!!!!! “teriak Michael.

“Bikin aku kaget saja,” gerutu Andrew.

“Ya, sorry…. cuma bercanda, bro! Tapi kamu kenapa? kok kayaknya kamu nggak semangat?” tanya Michael.

“Aku bingung, karena aku belum menemukan anggota band buat lomba Sabtu besok. Sementara limitnya hari Jum’at, empat hari lagi, eh kamu sudah ada band belom?” Andrew bertanya pada Michael.

“Kebetulan, aku juga belum punya, gimana kalo kita bentuk band? Aku kan jago gitar, kamu jago nyanyi, cocok! Kamu jadi vokalis, aku jadi gitaris, gimana, setuju nggak?” tanya Michael.

“Ok, setuju!” seru Andrew.

“Sip! Berarti tinggal cari tiga anggota lagi, ayo kita cari, ajak Michael penuh semangat.

Michael dan Andrew mencari anggota dengan berkeliling sekolah.

Namun sayangnya, mencari anggota band tidak semudah yang dikira Michael dan Andrew, karena mereka sama sekali tidak menemukan anggota band sampai bel pulang berbunyi. Michael dan Andrew pun pulang dengan tangan hampa.

Dua hari berlalu, Michael dan Andrew masih belum menemukan anggota band. Mereka jadi pusing dan hampir putus asa. Namun, mereka tidak mau menyerah begitu saja. Setelah berjuang cukup keras, perlahan mereka menemukan anggota.

Dimulai dari Thomas, siswa XI IPS 3, yang bergabung menjadi bassist, lalu disusul dengan bergabungnya George, siswa kelas XI IPA 1, sebagai keyboardist. Lalu, Richard, anak kelas XI IPA 2, juga bergabung sebagai drummer.

Andrew mengusulkan nama Project Revolution Band, yang bermakna bahwa band itu adalah proyek mereka untuk merevolusi dunia musik. Michael, Thomas, George, dan Richard pun menyetujui usul Andrew .

Project Revolution tampil dengan sempurna. Hingga Akhirnya band mereka pun berhasil menjuarai lomba band tersebut.

Andrew merasa senang bahwa dia bisa membuktikan kepada teman sekelasnya akan kemampuan bermusiknya.

Setelah lomba berakhir, kelima anggota Project Revolution berjanji untuk selalu kompak sampai kapanpun. Sesuai dengan janji mereka, kelima anggota band Project Revolution pun kompak menjaga persahabatan di antara mereka.

17. Contoh cerita pendek tentang keluarga: Pelangi Sehabis Hujan

Contoh cerita pendek tentang keluarga yang mengharukan ini dilansir dari laman detikcom. Simak ya, Bunda. 

Gemuruh ombak terdengar memecah keheningan membuat suasana malam itu terasa lebih dingin. Etta yang saat itu masih berusia 5 tahun sedang berbaring sembari menatap remang-remang cahaya yang menyusup melalui celah pintu kamarnya. Tak lama setelahnya, terdengar suara keributan dari ruang tamu. 

“Sekarang kamu harus memilih, aku atau dia,” ujar bu Marta

sambil menunjuk perempuan itu.

“Aku memilih dia,” ujar Pak Ann sambil menunjuk wanita tersebut.

“Baiklah, jika kamu memilih wanita ini maka aku akan pergi bersama anak-anak,” ujar bu Marta lagi. 

Ia terdiam, dan hanya bisa mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya. Ia tak mampu melakukan apa-apa pada saat itu, mengingat usianya yang masih sangat kecil.

Pertengkaran kedua orang tuanya merupakan hal yang paling dia benci. Entah mengapa mereka selalu bertengkar, ini bukan pertengkaran yang pertama. Ada rasa kesedihan yang mendalam dalam hatinya. 

Beberapa saat kemudian, “Eta, ayo ikut mama. Kita pergi nak,” ujar bu Marta sambil membangunkan Etta dari tempat tidur.

Etta pun segera bangkit dan menggandeng tangan ibunya. 

Sesampainya di pintu, “Aku memilihmu saja, karena anakku ada bersamamu”, ujar Pak Ann tiba-tiba.

Bu Marta pun terdiam sesaat, dan kemudian berkata, “Baiklah, jika kau memilihku maka wanita ini harus pergi dari sini.”

Pertengkaran pun akhirnya mereda, malam pun kembali sunyi. Etta pun kembali ke tempat tidur dan terlelap. Peristiwa ini bukan yang pertama kali terjadi dalam keluarganya, beberapa waktu lalu hal seperti ini juga pernah terjadi. Entah sejak kapan Pak Ann yang pada awalnya sangat mencintai Bu Marta berpaling menghianatinya saat ini. 

Keesokan harinya, wanita itu berpamitan kepada ibuku dan bersiap-siap untuk meninggalkan rumah kami. Ada perasaan lega dalam hatiku, dan aku berharap wanita tersebut tidak akan kembali.

Beberapa minggu setelah peristiwa itu, Bu Marta dan Pak Ann memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Etta merasa cukup sedih, karena harus meninggalkan kampung halamannya dan saudara-saudaranya. 

“Sampai bertemu kembali kampung halamanku”, bisiknya dalam hati.

Beberapa lama setelah kepindahan keluarga Pak Ann, tiba tiba terdengar kabar yang begitu memilukan. Tempat tinggal mereka dahulu terkena bencana alam. Ombak menyapu habis seluruh rumah dan isinya, termasuk beberapa dari saudara Pak Ann juga ikut menjadi korban bencana alam yang dahsyat itu. 

Beberapa tahun setelah peristiwa itu, Etta pun menyadari bahwa kalau bukan Tuhan yang berencana memindahkan mereka, maka mungkin mereka akan menjadi salah satu korban peristiwa tersebut.

18. Contoh cerpen fiksi: Gajah dan Kancil Lomba Lari

Contoh cerpen fiksi motivasi tentang gajah dan kancil berlomba lari ini dikutip dari buku Dongeng Lengkap Kancil, penerbit Laksana (2020). 

“Kancill, kenapa kamu murung?” tanya Gajah sepulang dari mandi di sungai. Badan Gajah terlihat bersih.

“Kamu tahu, besok ada lomba lari?” Kancil menjawab pertanyaan Gajah.

“Iya, aku tahu. Aku, kan, besok ikut lomba lari,” jawab Gajah. 

Kancil tambah sedih.

“Hel, hei, kamu kenapa sedih? Apa aku punya salah ke kamu, Kancil?” tanya Gajah. Dia takut ada kata-kata yang menyinggung perasaan Kancil.

“Bukan, Gajah. Kamu tidak salah. Aku hanya sedih karena besok tidak bisa ikut lomba lari.” Kancil akhirnya menjawab rasa penasaran Gajah. 

“Kenapa kamu tidak bisa ikut lomba, Kancil?”

“Kakiku belum sembuh. Kemarin aku jatuh ketika latihan lari di tengah hutan, Kakiku tersandung akar pohon,” jelas Kancil.

“Besok pasti sudah sembuh, Kancil,” hibur Gajah.

“Mana mungkin sembuh, Gajah.” Kancil menangis tersedu- sedu. Padahal, ia sudah latihan lari di tengah hutan selama berhari-hari.

“Jangan bersedih, Kancil. Tenang saja, besok kamu bisa ikut lomba lari bersamaku. Aku akan menjemputmu pagi-pagi sekali,” kata Gajah.

Bagaimana bisa aku ikut lomba lari? Kadang Gajah berlebihan dan hanya mencoba menghiburku, bisik hati Kancil.

Keesokan harinya, Gajah datang ke rumah Kancil. Kancil yang sedang bermain dengan adik-adiknya kaget. Ternyata, Gajah benar-benar datang menjemputnya.

“Naiklah ke punggungku, Kancil,” ajak Gajah.

Kancil tidak bisa menolak. Dia naik ke punggung Gajah. Ketika sampai di arena lomba lari, Kancil tetap duduk di punggung Gajah.

“Kita akan lomba lari bersama,” ucap Gajah.

“Bagaimana caranya?” tanya Kancil kebingungan.

“Duduklah di punggungku dengan manis, Kancil. Kita akan lariii…,” ucap Gajah sambil berlari bersama hewan lainnya. 

Kancil senang sekali, Gajah memang sahabat yang sangat baik. Mereka berlari bersama sampai garis finis.

19. Contoh cerpen singkat: Kegembiraan di Hari Perayaan Kemerdekaan

Cerpen singkat yang mengangkat cerita mengharukan pada saat perayaan kemerdekaan ini dilansir dari laman detikcom. Simak ya, Bunda. 

Pada suatu sore hari yang panas, Aku bersama teman-teman yaitu, Rina, Eka, Ratna, dan Ratih bersiap-siap untuk mengikuti lomba perayaan hari kemerdekaan yang dimulai dari rute kp. Neglasari – kp. perbatasan. 

Dari sekian lomba yang aku ikuti, lomba yang berhasil masuk sampai final dan paling berkesan ialah lomba balap karung. Meskipun sulit, Aku berusaha untuk menyeimbangkannya.

Semua peserta lomba balap karung telah siap untuk mendengarkan aba-aba yang dilontarkan.

“Siap… mulai!!!” teriak pak Eman selaku pemberi aba-aba.

Lima menit berlalu, tiba-tiba salah satu temanku yaitu Eka terjatuh tepat di depan ku, sehingga menyulitkan langkahku untuk meloncat. Akhirnya Eka terpaksa berhenti dari perlombaan balap karung dan hanya menjadi penonton di tengah keramaian warga yang menyaksikan lomba. 

Aku sudah mulai menjauh dari tempat tadi dan berhasil bergerak meloncat menyusul Rina, kedua temanku yang ada di depanku rupanya meloncat begitu cepat, Aku pun tidak ingin ketinggalan untuk cepat sampai menuju garis finish.

Dengan sekuat tenaga Aku berusaha meloncat dengan cepat, tetapi sayang kecepatanku mulai lemah, Rina yang tadi di belakangku kini mulai bergerak maju menyusulku, tak sampai disitu, Aku berusaha menambah kecepatan loncatan lebih cepat lagi dan akhirnya Aku berhasil melalui Rina. 

Sekarang targetku harus bisa melalui 2 orang yang ada di depanku, yaitu Ratna dan Ratih, tapi aku juga harus tetap waspada kalau-kalau Rina yang ada di belakangku berhasil melaluiku kembali.

Kecepatan loncatan mereka berdua sangat bagus sehingga beberapa kali aku menambahkan kecepatan loncatan, kecepatan loncatan mereka semakin kencang. Benar-benar hebat Aku pun membutuhkan kecepatan loncatan ekstra untuk bisa menandingi mereka, dengan beberapa tenaga yang masih tersisa dan semangat 45 sesuai dengan hari kemerdekaan yang sedang dirayakan, akhirnya Aku berhasil melalui Ratih, targetku pun tinggal satu orang lagi yaitu Ratna. 

Dengan garis finish yang tinggal menyisakan beberapa loncatan lagi, aku berusaha mengejar Ratna, tetapi kecepatanku melemah, tak disangka Ratna pun berhasil melaluiku mencapai garis finish dan keluar sebagai juara 1 di lomba balap karung final tersebut, lalu aku sebagai juara 2 dan disusul Ratih sebagai juara 3.

Aku lalu menghampiri Ratna yang sejak usai lomba terlihat kelelahan, kini berubah dengan wajah yang berbinar-binar, karena perjuanganya tidak sia-sia memenangkan lomba.

“Selamat ya Rat kamu memang hebat!!!” ucapku.

“Makasih yaa!, Kamu juga hebat!” balasnya.

“Sama-sama, makasih!” balasku kembali.

Meskipun lomba balap karung ini tak begitu membanggakan bagi sebagian orang tetapi bagiku, kenangan indah kegembiraan-kegembiraan yang terselip di dalamnya begitu seru dan berkesan.

20. Cerita pendek penuh pesan moral untuk anak: Kisah Cacing Tanah yang Bijaksana

Cerpen singkat yang bermakna untuk anak ini dikutip dari buku 30 Cerita Fabel Penuh Pesan Moral Untuk Anak-Anak, penerbit Airiz Publishing (2019). 

Pada zaman dahulu, hiduplah seekor cacing tanah yang selalu riang gembira. Setiap harinya, cacing tanah berjalan kesana kemari untuk mencari makanan, suatu hari ketika sedang mencari makanan cacing tanah tanpa sengaja menabrak sesuatu. 

“Aduh lagi-lagi aku menabrak bebatuan.” ujarnya diiringi suara gelak tawa. 

Kemudian, cacing tanah melanjutkan perjalanannya ke dalam tanah seolah membuat terowongan. Suatu hari, ketika cacing tanah sedang berjalan di dalam tanah, ia bertemu seekor ulat yang terperosok di dalam lubang kecil. 

“Tolong-tolong aku siapapun Aku mohon tolong aku.” ujar ulat kecil. 

Mendengar suara ular kecil cacing tanah mempercepat langkahnya mencari sumber

“Siapa itu? apa yang terjadi padamu.”ujar cacing tanah.

“Syukurlah ada yang datang aku tanpa sengaja terperosok ke dalam lubang ini dan aku tidak tahu bagaimana caranya keluar dari sini aku mohon tolonglah aku,” ujar ulat kecil

“Baiklah aku akan membantumu ayo ikuti aku.” ujar cacing tanah 

Ulat kecil itupun mengikuti cacing tanah, ia perhatikan cara cacing tanah berjalan seperti meraba-raba.

“Maafkan aku tuan cacing tanah apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?” ujar ulat kecil.

“Tentu saja kau boleh bertanya apapun” ujar cacing tanah. 

“Apakah kau tidak bisa melihat? mengapa kau berjalan seperti meraba-raba seperti itu?” Ujar ulat kecil. 

“Anak cerdas. kau benar sekali aku memang tidak mempunyai indera penglihatan dari lahir,” ujar cacing tanah.

“Lalu bagaimana bisa kita menemukan jalan keluar jika melihat saja tuan tidak bisa?” ujar ulat kecil.

“Kau ikuti saja aku kita akan menemukan jalan keluar,” ujar cacing tanah.

Ulat kecil itupun tidak mempunyai pilihan lain, ia mengikuti langkah cacing tanah itu hingga akhirnya mereka berhasil menemukan jalan keluar. 

“Ini ajaib kita berhasil maafkan aku tuan cacing yang sudah berlaku tidak sopan padamu aku sangat menyesal,” ujar ulat kecil. 

“Tidak apa-apa mungkin kau tidak tahu jika kau tidak mempunyai salah satu indera di tubuhmu maka indera yang lain akan menjadi penggantinya. Mungkin aku memang tidak bisa melihat tetapi indera peraba ku sangat tajam.” ujar cacing tanah. 




Banner Kalimat Pantangan untuk Anak

Tidak lama kemudian mereka bertemu Rara si gajah kecil yang bijaksana. Cacing tanah meminta bantuan Rara untuk mengantarkan ulat kecil ke dedaunan terdekat. Ulat kecil itupun kembali dengan selamat ke rumahnya. 

Itulah beberapa kumpulan cerpen yang dapat Si Kecil baca. Semoga dengan membaca cerpen-cerpen tersebut Si Kecil akan mampu memahami makna yang terkandung di dalamnya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, ya Bunda. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Kontributor

Baca Lainnya

5 Potret Kehidupan Rachel Amanda Kuliah S2 di Belanda & Mesra Bareng Suami

10 December 2023 - 07:59 WIB

Janin Sering Cegukan, Kenali Penyebab, Cara Mengatasi & Bedaya dengan Tendangan Bayi

10 December 2023 - 03:52 WIB

janin-cegukan

7 Potret Kimberly Ryder & Edward Akbar 5 Th Menikah, Awalnya Kepincut Gara-gara Salat Subuh

9 December 2023 - 23:49 WIB

10 Tanda Tubuh Kelebihan Gula yang Perlu Diwaspadai, Mudah Lapar dan Brain Fog

9 December 2023 - 19:42 WIB

Cerita Bunda Vanessa Bisnis Bekal Anak Sekolah, Omzet Capai Rp30 Juta per Bulan

9 December 2023 - 15:40 WIB

7 Potret Abbey Putri Artika Sari Devi yang Sudah Remaja, Mulai Ngeband Seperti Ayahnya

9 December 2023 - 11:37 WIB

Trending di Mom