Menu

Mode Gelap

News · 8 Oct 2023 15:20 WIB ·

Membela Marhaen-Mustad’afin Millenial


 Membela Marhaen-Mustad’afin Millenial Perbesar

Jakarta

Tanggal 27 September 2023 bertepatan dengan malam Maulid Nabi Muhammad SAW, Forum Djenggala menggelar kegiatan bedah buku ‘Merahnya Ajaran Bung Karno: Pembebasan Ala Indonesia’ karya Airlangga Pribadi Kusman di sebuah aula pertemuan kawasan Sriwijaya, Jakarta Selatan. Selain menghadirkan penulisnya, forum tersebut juga mengundang pakar politik Fachry Ali dan Sekjen PDIP Hasto Kristianto.

Adapun Sandiaga Salahudin Uno yang kini menjabat Ketua Bappilu Nasional PPP didapuk memberikan sambutan tuan rumah dalam kapasitasnya sebagai pembina Forum Djenggala.

Bedah buku pemikiran politik ini dipandu oleh Miftah Sabri, mantan Ketua Senat Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia yang belakangan ini lebih banyak tinggal di USA. Namun, enam bulan terakhir ini, Miftah lebih banyak bermukim di Indonesia.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diskusi ini cukup menarik dan unik. Sebab, audiensnya mayoritas kalangan Milenial dan Gen Z, dua kelompok umur yang mendominasi daftar pemilih pada Pemilu 2024 nanti. Pilihan kegiatan berupa diskusi tergolong berani, maklum pada usia-usia segitu mereka lebih asyik dengan gadget dan sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi dengan kepiawaian Miftah memandu acara, forum lebih rileks dan bisa mengena ke hati anak-anak muda yang terlihat punya keinginan kuat untuk tahu sejarah pemikiran politik Indonesia.

Saya hadir di acara itu untuk mendampingi Sekjen DPP PPP Arwani Thomafi. Senang sekali bisa bertatap muka dengan Bang Fachry Ali yang sudah kami rencanakan sejak lama. Saya sudah lama mengenal sosok Bang Fachry, tepatnya sejak di bangku kuliah S1 melalui tulisan-tulisannya. Saya semakin mengenalnya melalui Kak Nurohmah, istri Bang Fachry, ketika periode lalu sama-sama aktif di DPP PPP.

Ketika di atas panggung, Bang Fachry memulainya dengan membacakan sholawat sekaligus mengingatkan bahwa malam itu merupakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan melihat Bang Fachry memimpin pembacaan sholawat, semakin membenarkan klaimnya bahwa di samping rumahnya ada gedung serbaguna yang sering digunakan untuk pengajian ibu-ibu muslimat. Setidaknya itu berdasarkan pengakuannya dalam tulisan prolog buku ini.

Sedangkan Mas Hasto, kehadirannya ditunggu audiens, bukan hanya sebagai kader ideologis Bung Karno, namun juga sebagai orang kepercayaan Megawati Soekarnoputri. Tentu yang paling ditunggu adalah pantun politiknya yang menjadi semacam kode buat bakal cawapres Ganjar Pranowo. Kalau dengan Airlangga, sudah cukup lama tidak kontak. Apalagi saat dia menjadi anggota timsel KPU dan Bawaslu RI, nyaris tidak berhubungan sama sekali hanya untuk menjaga posisinya agar tetap netral dan independen dalam menyeleksi calon penyelenggara pemilu.

Yang spesial adalah Sandiaga Uno, sebagai politisi Islam yang berlatar belakang ekonom ternyata juga fasih mengupas pemikiran Bung Karno. Kalimat Pengabdian menjadi yang paling banyak diulasnya. Dia mengutip pernyataan Megawati Soekarnoputri dalam kata pengantar buku ini (hlm xxiv).

Megawati mengulang pernyataan Bung Karno yang pernah didengarnya secara langsung bahwa ajaran Bung Karno sebagai ikhtiar untuk mensejahterakan rakyat Marhaen sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT. Pengabdian yang dimaksud dimulai dengan membuat perut rakyat kenyang untuk menuju kehidupan mereka yang lebih sejahtera dalam tatanan masyarakat yang adil dan makmur.

Karena kita berpolitik dan bernegara tujuannya tidak lain adalah untuk menyejahterakan rakyat. Masuk partai politik dan ikut kontestasi pemilu adalah cara konstitusional meraih kekuasaan. Tujuan utamanya adalah untuk kesejahteraan rakyat.

Sandiaga Uno tak lupa mengupas ajaran Bung Karno yakni Marhaenisme. Sebuah konsep pemikiran ala Indonesia yang merupakan sintesa dari pemikiran sosialis Barat dengan kultur keindonesiaan. Bung Karno yang banyak belajar teori-teori Barat tidak serta merta mengaplikasikannya secara langsung di Indonesia. Misalnya, ketika membaca Das Kapital Karya Karl Marx yang mengajarkan perlawanan kelas antara kaum proletar dengan borjuis, antara kekuatan buruh dan kapital, tidak serta merta diterapkan di Indonesia.

Karena struktur sosial di Indonesia berbeda dengan struktur sosial di Eropa saat Das Kapital ditulis. Di Eropa ada semangat perlawanan buruh yang tertindas oleh hegemoni kapital. Sementara saat Soekarno merumuskan konsep pemikirannya, Indonesia bukan negara industri, melainkan sebuah negara koloni Bernama Hindia Belanda yang bercorak agraris.

Dalam perenungannya, Bung Karno menemukan sosok Marhaen, seorang petani di Bandung Selatan yang memiliki alat produksi terbatas berupa sebidang tanah pertanian, cangkul dan alat pengeruk tanah. Dengan keterbatasan yang dimiliki, Marhaen tidak mampu bersaing dan tetap masuk kategori berpenghasilan minim. Marhaen bukanlah pekerja pabrik seperti di Eropa yang tidak berdaya dengan kapitalis. Marhaen mewakili wajah petani di Indonesia yang memiliki alat produksi secara mandiri tetapi tidak berdaya menghadapi tata niaga pangan yang dikendalikan pemilik modal.

Sandiaga Uno menyebut kaum mustad’afin dalam tradisi Islam sebagai padanan dari kaum Marhaen. Keduanya memiliki nasib yang sama yakni mewakili kalangan ekonomi lemah yang tak berdaya menghadapi tekanan zaman. Dalam konteks terkini situasinya masih sama. Bonus demografi ternyata menjadi persoalan baru di Indonesia. Dari jajak pendapat sejumlah Lembaga Survei, mayoritas generasi Millennial dan Gen Z mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan. Padahal, mereka merupakan tenaga terdidik dan terampil yang minim peluang.

Bagi Sandiaga Uno, mereka ini termasuk kalangan marhaen-mustad’afin yang harus diadvokasi melalui pembinaan dan pemberian akses untuk bisa berkembang. Dari bedah buku itulah, Bang Fachry Ali mengaku menemukan istilah baru yakni perpaduan marhaen-mustad’afin. Perlu ditunggu elaborasi pemikiran Bang Fachri terkait kombinasi tersebut.

Perpaduan dua istilah itu sebenarnya lebih mencerminkan hubungan antara kutub nasionalis-Islam yang menjadi tonggak perjalanan bangsa selama ini. Maka tak heran jika salah satu peserta diskusi mendambakan paket dwi tunggal seperti Soekarno-Hatta (Bung Karno-Bung Hatta) bisa terulang kembali. Bung Karno yang tokoh nasionalis terkenal dengan visi politik besarnya ditopang oleh seorang tokoh ekonom Islam Bung Hatta yang menjadikan dwi tunggal saling melengkapi ketika awal republik ini berdiri.

Pada Pemilu 2024 muncul keinginan paket seperti ini terulang. Yakni figur Ganjar Pranowo yang berasal dari kalangan nasionalis bisa didampingi oleh figur Islam yang paham ekonomi. Salah satu tokoh yang memiliki kriteria itu adalah Sandiaga Uno. Hanya saja semuanya bergantung dari keputusan para ketua umum partai politik untuk menentukan paket dwitunggal yang mampu membela kalangan marhaen-mustad’afin millennial.

Achmad Baidowi, Wakil Ketua Bappilu Nasional PPP

(akn/ega)

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Kontributor

Baca Lainnya

Menkominfo Minta Perbedaan Hanya Saat Nyoblos Pemilu: Selanjutnya Bersatu

7 December 2023 - 15:01 WIB

Mahfud Bicara Negara Sedang Tak Baik, TKN: Dia Terjebak Omongan Sendiri

25 November 2023 - 18:30 WIB

Negara BRICS Berperan Penting dalam Penyelesaian Konflik di Gaza

21 November 2023 - 18:28 WIB

Diskusi Bareng Relawan di Jambi, Gibran Bicara Target Pembenahan BUMN

17 November 2023 - 18:17 WIB

Kaesang ke Hasto soal 2 Hari Gabung Jadi Ketum: Mohon Petunjuk Pak Sekjen

13 November 2023 - 18:12 WIB

15 Warga Palestina Tewas Dibunuh Pasukan Israel di Tepi Barat

9 November 2023 - 18:09 WIB

Trending di News